BERTEMAN DENGAN TUHAN

Ketahuilah bahwa teman yang tidak akan meninggalkanmu ketika engkau di rumah dan bepergian, ketika engkau tidur dan terjaga, bahkan ketika hidup dan mati adalah maha pencipta. Ketika engkau mengingat-Nya, maka seketika Ia akan menjadi teman dudukmu. Firman Allah, ana jaliisu man dzakaroni (Aku adalah teman duduk orang yang mengingat-Ku). Jika kita bersedih hati akan kekurangan dan keteledoran kita dalam melaksaanakan perintah Allah maka Ia akan menjadi sahabat penghibur kita. Firman Allah, ana ‘indal munkasaroti qulubuhum min ajli (Aku bersama dengan orang-orang yang bersedih hati karena-Ku).

Sesungguhnya jika engkau mengetahui Allah dengan pengetahuan yang sebenarnya maka engkau akan menjadikan-Nya sebagai teman dan engkau akan mengenyampingkan para makhluk. Apabila engkau tidak mampu bersama dengan Allah dalam semua waktumu, maka sisakanlah sedikit saja waktumu dari siang atau malammu untuk bermunajat dan bercinta dengan tuhanmu.

Dan ketika engkau ingin bercinta dengan tuhan, maka engkau harus mengetahui adab-adabnya. Yaitu, menundukkan kepala, memejamkan mata, berusaha fokus, banyak diam, menenangkan badan, segera melaksanakan perintah, menjauhi larangan, tidak menolak takdir, selalu mengingat Allah, selalu berfikir, mendahulukan kebenaran atas kebathilan, tidak berharap kepada makhluk, merunduk akan wibawa Allah, tidak bergantung kepada usaha yang dilakukan karena percaya akan fadhol (kemuliaan) Allah, dan bertawakal kepada Allah. pakaian-pakaian adab inilah yang seharusnya kita pakai pada waktu siang dan malam kita. Karena itu semua adalah adab-adab bersama dengan teman sejati yang tidak akan pernah meninggalkan kita. Sedangkan semua makhluk akan meninggalkan kita di separoh waktu kita. (minhaajul ‘abidiin, Hujjatul Islaam Abi Hamid al-Ghozali).

Tajriid dan Asbaab

KEINGINANMU UNTUK TAJRIID (TIDAK BEKERJA), SEMENTARA ALLAH TELAH MENEMPATKANMU DI MAQOM ASBAAB (BEKERJA), TERMASUK JENIS SYAHWAT YANG TERSEMBUNYI. DAN KEINGINANMU UNTUK BERADA DI MAQOM ASBAB PADAHAL ALLAH TELAH MENEMPATKANMU DI MAQOM TAJRIID MERUPAKAN PENURUNAN DARI CITA-CITA DAN HARAPAN YANG TINGGI DALAM MENGGAPAI RAHMAT ALLAH (Hikmah 2)

Keinginanmu wahai murid untuk berada di maqom tajriid padahal Allah telah menempatkanmu di maqom asbab, seperti mencari rizki yang halal, dan menyibukkan diri dengan ilmu dzohir merupakan jenis syahwat yang tersembunyi. Dinamakan syahwat karena engkau tidak sejalan dengan keingina Allah ta’ala. Dan dinamakan khofiyyah (samar) karena engkau tidak sedang ingin mendapatkan bagian nafsumu dalam waktu dekat. Akan tetapi dengan alasan tajriid engkau ingin mendekatkan dirimu kepada Allah ta’ala. Sesungguhnya nafsu telah menguasai dirimu untuk keluar dari maqom asbab yang sudah ditentukan Allah ta’ala.

Begitu pula keinginanmu untuk berada di maqom asbab, padahal Allah telah memposisikanmu berada di maqom tajriid dan telah memberimu rizki tanpa bekerja merupakan bentuk penurunan dari semangat dan cita-cita yang tinggi untuk mendekat kepada Allah. karena keinginan itu adalah keinginan untuk kembali kepada makhluk setelah engkau bersama dengan Allah, dan hal ini tidak diridloi oleh Allah. Sesungguhnya jika Allah telah menempatkanmu pada suatu maqom, maka Allah akan menolongmu. tetapi jika engkau ingin berpindah dari maqom yang telah ditentukan oleh Allah, maka Allah tidak akan menolongmu dan menyerahkan semua urusanmu kepadamu. Firman Allah, robbi adkhilni mudkhola sidqiiw wa akhrijni mukhroja sidqiww  waj’alli min ladunka sulthoonan nashiiroo (al-Isro’: 80), artinya: “dan katakanlah wahai Muhammad! ya tuhanku masukkan aku ketempat masuk yang benar dan keluarkan pula aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolongku”.  Tempat masuk yang baik adalah engkau tidak masuk dengan hawa nafsumu, dan tempat keluar yang baik adalah engkau tidak kaluar dengan hawa nafsumu, tetapi dengan Tuhanmu. Firman Allah, wa man ya’tashim billahi faqod hudiya ilaa shiroothimmustaqiim (ali-Imron: 101) artinya, “barang siapa yang berpegangan kepada Allah maka ia akan ditunjukkan kepada jalan yang lurus”. Oleh karena itu hendaknya kita menerima dengan lapang dada atas maqom dan posisi yang telah Allah tempatkan. Dan tanda bahwa kita sedang menempati posisi yang benar adalah  kita bisa istiqomah melakukan amala ibadah dan dimudahkan jalan rizki kita oleh sang maha pemberi rizki.

MAKNA LAA ILA HA ILLALLAH

Apakah makna kalimat tauhid, laa ilaa ha illallah?

Makna kalimat tauhid, laa ilaa ha illallah adalah tidak ada sesembahan kecuali Allah. Sesungguhnya segala sesuatu selain Allah yang disembah adalah bathil. Kalimat tauhid ini berfungsi meniadakan hak untuk disembah bagi siapapun kecuali Allah ta’ala. Dialah satu-satunya Allah yang berhak disembah. Karena Dia adalah satu-satunya pencipta, satu-satunya dalang dan sutradara yang sebenarnya.

Adapun orang atheis meniadakan hak untuk disembah bagi siapapun, bahkan kepada Allah ta’ala. Ia mengatakan laa ilaa ha (tidak ada tuhan). Sedangkan orang musyrik memberikan hak untuk disembah bagi Allah dan bagi makhluk-makhluk selain Allah. Ia mengatakan, laa ilaa ha illa allah, wal ashnaam, wan nujuum, walmasiih (tiada tuhan kecuali Allah, patung, bintang, al-masih dan lain sebagainya). Seorang muslim yang mengesakan Allah adalah yang mendapatkan hidayah dan petunjuk. Ia meniadakan hak disembah kepada semua makhluk. Ia meyakini bahwa segala sesuatu selain Allah itu dicitptakan, dan Allah adalah satu-satunya pencipta. Dialah Allah yang berhak disembah, yang berhak mendapatkan hak atas segala macam dan bentuk-bentuk ibadah dzohir maupun bathin.

Sesungguhnya hakekat ibadah adalah engkau tidak beriman kecuali hanya kepada Allah. Engkau tidak bersandar kecuali hanya kepada Allah. Engkau tidak memohon pertolongan kecuali hanya kepada Allah. Engkau tidak memiliki tujuan kecuali hanya kepada Allah. Engkau tidak memiliki keinginan apapun kecuali keinginan untuk bertemu dengan Allah. Engkau tidak melihat kecuali hanya melihat Allah. Mari kita meminta pertolongan kepada Allah ta’ala agar Dia memberikan anugerah pemahaman kepada kita mengenai hakekat tauhid yang sebenarnya. Wallahu ta’ala a’la wa a’alam.

 

SIAPAKAH ASY’ARI

Siapakah mereka orang-orang yang beraliran asy’ari?, apakah mereka termasuk golongan Ahlussunnah wal Jama’ah yang menganut aqidah yang benar. Ataukah mereka itu kelompok ahli bid’ah dan penganut aqidah yang sesat?

Al-Asya’iroh, adalah suatu kelompok yang mengafiliasikan dirinya kepada Imam Abil Hasan al-Asy’ari dalam madzhab di bidang aqidah. Sebelum kita menjelaskan apa itu madzhab Asy’ari, kita akan menjelaskan dulu siapa itu Abil Hasan al-Asy’ari.

Dialah Imam Abul Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Basyar Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah, Amir bin Abi Musa al-Asy’ari. Beliau dilahirkan pada tahun 260 H di kota Bashroh. Pendapat lainnya mengatakan bahwa beliau dilahirkan pada tahun 270 H. Sementara tahun wafatnya, terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama. Ada yang mengatakan tahun 333 H, ada yang mengatakan tahun 324 H, dan ada yang mengatakan tahun 330 H. Adapun makam beliau berada di kota Baghdad.

Abul Hasan al-Asy’ari adalah seorang ulama Sunni. Kemudian beliau belajar mengenai madzhab Mu’tazilah kepada Imam al-Juba’i, sampai kemudian ia berpindah madzhab mengikuti madzhab gurunya. Namun pada akhirnya kemudian ia bertaubat dan kembali pada madzhab Sunni. Ketika bertaubat, ia naik ke atas mimbar di masjid Jami’ di kota Bashrah pada hari Jum’at. Dengan suara keras ia berseru, “dulu aku pernah mengatakan bahwa al-Qur’an itu makhluk, dan Allah tidak bisa disaksikan oleh mata kepala. Dan itu semua adalah kesalahan yang pernah aku katakan, dan sekarang aku sudah bertaubat”.

Adapun mengenai Asya’iroh, Asya’iroh adalah suatu kelompok yang bermadzab ahlussunnah wal jama’ah yang memiliki pendapat dan dalil-dalil yang paling jelas dan terang dalam hal ilmu aqidah dan tauhid. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkarinya adalah orang yang tidak mengetahui hakekat dari madzhab ini. Madzhab ini telah mengajarkan kepada umat tentang segala hal yang berhubungan dengan keimanan dan bagaimana cara beriman kepada Allah dengan iman yang benar.

Di dalam ilmu tauhid kita mengenai istilah sifat khobariyyah. Terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama mengenai as-sifaat al-khobariyyah (sifat-sifat Allah yang diterangkan di dalam al-Qur’an dan al-Hadts). Banyak orang yang memahami sifa-sifat ini dengan pemahaman yang berbeda. Ada sebagian orang yang pemahamannya membawa pikirannya pada pendapat yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Pendapat ini bisa muncul karena mereka menetapkan hakekat lughowiyyah (keaslian susunan bahasa arab) ketika memahami sifat-sifat Allah di dalam al-Qur’an. Adapun orang-orang yang memiliki pemahaman yang benar memahami bahwa lafadz-lafadz ini tidak bertentangan dengan maknanya, karena lafad-lafad di dalam ayat al-Qur’an yang menerangkan sifat-sifat Allah itu termasuk ke dalam ayat mutasyabih.

Orang-orang yang diberi akal yang sehat akan mengatakan bahwa as-sifaat al-khobariyyah tidak ditetapkan bagi Allah dengan perantara akal. Akan tetapi sifat-sifat itu ditetapkan dengan berita dari wahyu. Adapun cara memahami ayat-ayat al-Qur’an yang di dalamnya berisi sifat khobariyah adalah meyakininya dengan sepenuh hati bahwa ini semua datang dari Allah ta’ala dan menyerahkan maknanya kepada-Nya, dengan tanpa sedikitpun memandangnya dengan pandangan al-haqiqoh al-lughowiyyah, karena apabila kita melihat kepada asli kata bahasa arab akan menimbulkan pemahaman yang bertentangan dengan perintah pensucian kepada dzat Allah ta’ala. Orang-orang yang memilik akal yang sehat dan pemahaman yang tajam ini dikemudian hari disebut dengan istilah kelompok al-Asyaa’iroh.

Ada juga sebagian ulama Asya’iroh yang menempuh cara takwil dalam menghadapi ayat-ayat mengenai as-sifaatal-khobariyyah. Karena dikhawatirkan orang-orang yang belum memahami aqidah secara kuat akan terbawa kepada pendapat yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Padahal Allah sama sekali berbeda dengan makhluk. Para ulama mengatakan bahwa ayat-ayat tentang sifat khobariyah tidak boleh dipahami kecuali dengan pemahaman yang selaras dengan keagungan dan kemuliaan Allah ta’ala. Jadi seolah-olah mereka ingin berkata kepada orang yang memiliki pendapat yang berbeda, “jika engkau ingin berbicara mengenai makna dari sifat-sifat ini, maka katakanlah dengan makna apa saja yang tidak mengurangi kehormatan dan keagungan Allah ta’ala, atau makna yang tidak akan menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya”. Para ulama itu berkata, “katakanlah! ‘ainulloh dengan makna perlindungan dan pertolongan Allah. Sebagaimana firman Allah, wa litusna’a ‘ala ‘ainiy (Toha: 39). Janganlah! engkau sekali-kali mengatakan bahwa itu adalah anggota badan.

Madzhab Alussunnah wal jama’ah memiliki dua metode dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an maupun al-hadits yang berkaitan dengan as-sifaat al-khobariyah, yaitu metode madzhab salaf yang juga dinamakan madzhab i’tiqood (keyakinan), dan metode madzhab kholaf yang juga dinamakan dengan madzhab pemahaman dan teori.

Adapan metode yang ditempuh oleh kelompok lain adalah mencoba mencari maknanya dengan cara menetapkan haqiqoh lughowiyyah (hakekat bahasa arab). Ini adalah metode yang salah karena cara ini akan mengantarkan manusia menuju pemahaman yang menyerupakan antara makhluk dengan Allah sang kholiq / pencipta.

Oleh karena itu Al- Hafidz al-‘Irooqi ketika menjelaskan mengenai wajah Allah, ia mengatakan bahwa penyebutan wajah Allah di dalam al-Qur’an disebutkan berung-ulang, begitu pula dengan sifat-sifat yang lain. Cara menafsirkannya dengan mengikuti dua madzhab. Madzhab yang pertama, membiarkannya sebagaimana adanya. Kita beriman padanya dan kita serahkan maknanya kepada Allah ta’ala dengan memiliki keyakinan bahwa Allah itu tidak sama dengan makhluk lainnya, dan sifat Allah tidak sama dengan sifat makhluk. Adapun madzhab yang kedua yaitu dengan cara mentakwilkan ayat itu dengan makna dan arti yang sesuai dengan Dzat Allah yang mulia. Sehingga yang dimaksud dengan wajah Allah adalah wujud Allah.

Di dalam kitab lum’atul i’tiqood  Ibnu Qudamah mengatakan bahwa setiap apa yang datang dari al-Qur’an atau al-Hadits yang menerangkan tentang sifat-sifat Allah wajib hukumnya untuk mengimaninya, dan kita wajib untuk menerimanya dengan lapang dada. Sifat-sifat Allah yang belum jelas maknanya wajib kita yakini lafadznya, dan kita tinggalkan upaya-upaya yang mencoba untuk mencari arti dan maknanya, dan kita serahkan maknanya kepada Dzat yang mengatakannya. Inilah cara yang dipakai oleh orang-orang yang dalam ilmu pengetahuannya yang dipuji oleh Allah di dalam al-Qur’an. Firman Allah, warrosikhuuna fil’ilmi yaquuluuna amanna bih. Kullun min ‘indi robbina (Ali-Imron: 7), artinya: “orang-orang yang dalam ilmunya berkata, kami beriman kepadanya, karena semua itu datang dari tuhan kami”. Sebaliknya Allah mencela orang-orang yang mencoba untuk mentakwilkan ayat-ayat mutasyabih. Firman Allah, fa ammalladziina fii quluubihim zaighun fa yattabi’uuna ma tasyabaha minhub tighooa taKwiilih. Wa maa ya’llamu taKwilahuu ilallah (adapun orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah”.

Imam Abu Abdilah Ahmad bin Muhammad bin Hambal Rodliallahu ‘anh telah menjelaskan mengenai hadits nabi, innallaha yanzilu ilaa samaa’id dunya ( sesunggunya Allah turun ke langit dunia), wainnallaha yuroo fil qiyaamah (dan Allah bisa dilihat dengan mata kepala nanti di hari kiamat), bahwa kita mengimani dan membenarkannya tanpa bertanya bagaimana, maknanya apa, dan tidak boleh hukumnya menolak berita ini.

Kita meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala apa yang dibawa oleh Rasul itu benar. Menentang Rasul berarti menentang Allah. Dan kita dilarang mensifati Allah secara berlebihan melebihi sifat-sifat yang telah disebutkan dalam wahyunya. Allah berfirman, laisa kamislihi syaii’, wa huwas samii’ul bashiir (tidak ada suatu yang serupa dengan Allah. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui). Kita harus mengatakan seperti yang Allah katakan. Kita sifati Allah dengan sifat sifat yang telah diberitakan oleh-Nya. Dan kita beriman kepada semua isi al-Qur’an, baik yang mukhkam / jelas dan yang  mutasyabih / tidak jelas.

Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris as-Syafi’i rodliallahu ‘anh mengatakan bahwa aku beriman kepada Allah dan segala apa yang datang dari-Nya, sesuai dengan kehendak-Nya. Dan aku beriman kepada rasul Allah dan apa yang dibawa oleh rasul, sesuai degan maksud dan pemahaman rasul.

 

Adapun dalam hal keterkaitan antara paham ahlussunnah dengan madzhab Asya’iroh akan kami jelaskan di sini. Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa jika ‘Asyairoh itu bagian dari paham ahlussunnah wal Jama’ah, mengapa mereka tidak menamakan dirinya dengan ahlus sunnah?, dan mengapa aliran ini mengaitkan dirinya dengan Abil Hasan, dan tidak mengaitkan dirinya dengan nabi atau sahabat?.

Ini adalah pertanyaan yang tidak mungkin muncul dari pikiran orang-orang yang berilmu. Perkataan ini hanya muncul dari akal dan pikiran yang lemah, dan orang awam. Kami akan menjelaskan bahwa sesungguhnya kelompok ‘Asyairoh menyandarkan dirinya kepada Abil Hasan al-Asy’ari, karena ketika kaum muslimin banyak berselisih dan berbeda pendapat, hingga munculnya ahli bid’ah yang tidak memiliki adab kepada Allah dan rasul-Nya mengatakan bahwa aqidah yang mereka bawa adalah aqidah nabi dan sahabatnya, kelompok Asya’iroh ingin menolak dan menghindar dari ahli bid’ah ini dan ingin mencari manakah aqidah benar yang sesuai dengan aqidah nabi dan para sahabat.

Sesungguhnya Abil Hasan tidak menciptakan suatu madzhab baru di dalam bidang aqidah. Akan tetapi yang dilakukannya adalah menata kembali dan menguatkan aliran dan madzhab ahlus sunnah wal jama’ah. Imam as-Subki mengatakan, “ketahuialah! bahwasanya Abil Hasan tidak menciptakan pemikiran, aliran, atau madzhab baru, akan tetapi dia adalah orang yang menetapkan dan menguatkan madzhab ahlus sunnah wal jama’ah, madzhab yang dianut oleh para sahabat. Dan setiap orang yang mengatakan bahwa dirinya asy’ariy (pengikut madzhab Asy’ari) adalah orang yang mengikuti cara dan jalan yang ditempuh oleh nabi dan para sahabat”.

Imam Tajuddin as-Subki mengatakan, “mereka yang bermadzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali adalah satu aliran, yaitu ahlussunnah wal jamaah. Mereka menyembah keepada Allah dengan satu jalan, yaitu jalannya Abil Hasan al-Asy’ari rohimahulloh (diambil dari kitab thobaqootus syafi’iyyah al-kubroo).

Dari penjelasan di atas maka terbukalah pemahaman kita mengenai madzhab aqidah al-Asya’iroh, dan kita boleh mengatakan bahwa aqidahnya nabi dan para sahabat itu adalah aqidah al-Asya’iroh. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.     

 

BERGANTUNG KEPADA AMALAN

Tanda bergantungnya seseorang kepada amalan adalah berkurangnya harapan untuk mendapatkan rahmat Allah ketika tergelincir dalam jurang kemaksiatan (hikmah 1)

Apabila seseorang bergantung kepada amalan untuk mendapatkan surga, maka harapannya kepada rahmat Allah akan berkurang ketika tergelincir dalam kemaksiatan. Ini adalah besarnya harapan ketika sedang menghias diri dengan berbagai amalan ibadah dan kecilnya harapan ketika tergelincir dalam maksiat.

Hikmah ini berlaku untuk orang-orang ‘arif (ahli makrifat). Karena orang-orang arif dapat melihat bahwa segala amal perbuatannya itu dari Allah azza wajalla. Firman Allah ta’ala, wallahu kholaqokum wa maa ta’maluun, (surat as-Shoofat: 96), artinya: “Allahlah yang menciptakan engkau sekalian dan apa yang kalian lakukan”. Ketika orang-orang arif  memahami ayat ini, mereka tidak akan memperbesar harapan mereka dengan amal ibadah, karena mereka tidak melihat bahwa merekalah yang melakukan amal itu. Sebaliknya harapan mereka untukmendapatkan rahmat Allah tidak akan mengecil ketika mereka sedang tergelincir dalam jurang kemaksiatan. Karena mereka sedang tenggelam dan berenang-renang dalam lautan ridlo dan takdir Allah ‘azza wajalla, karena hati mereka sudah berpegang teguh kepada tali qodlo’ Allah. Sesungguhnya Allah ta’ala yang menciptakan apa yang dia kehendaki dan apa yang dia lakukan. Sesungguhnya ridlo kepada qodlo’ Allah dan menyerahkan segala keinginannya kepada keinginan Allah ta’ala itu hukumnya wajib.

Di dalam sebuah syair dikatakan, “perbuatan dosa tidak menghalangi harapan seseorang untuk mendapatkan rahmat Allah, karena sesungguhnya Dia itu maha pengampun dosa”.

Sementara para salikiin (orang-orang yang baru berjalan menuju Allah) masih menggantungkan kesenangan mereka pada amal soleh, dan mereka merasa takut dan mengecilkan harapan ketika sedang tergelincir dalam lembah kemakasiatan dan kesalahan.

Sesungguhnya Allah menjadikan amal soleh sebagai sebab untuk menaikkan derajat seseorang di surga Allah. Sebaliknya amalan yang buruk akan mengantarkannya kepada neraka jahannam. Allah berfirman, fa amma man a’tho wattaqoo,washoddaqo bil khuusna fasanuyassiruhu lilyusroo. Wa amma man bakhila wastaghna wa kadzzababil khusna fasanuyassiruhu lil’usyroo (surat al-Lail 5-10), artinya,”barang siapa yang bertakwa dan membenarkan adanya surga maka Kami akan mengantarkannya kepada kemudahan . Dan barangsiapa yang bakhil, merasa kaya, dan  mendustakan adanya surga, maka akan Kami antarakan kepada kesulitan”.

Sesungguhnya pengarang mengawali kitabnya dengan hikmah yang sesuai dengan maqom para ‘arif. Dan yang bisa dipetik dari hikmah ini untuk para saalikin adalah anjuran untuk memperbanyak amalan soleh dengan berbagai macam ibadah, dan bergantung kepada sebab yang bisa mengantarkannya kepada Allah ta’ala dengan harapan agar salik itu nantinya menjadi bagus pada awalnya. Karena awal yang bagus akan mengakibatkan akhir yang bagus.

Yang bisa disimpulkan dari hikmahdi atas adalah dorongan bagi orang-orang yang baru berjalan menuju Allah untuk giat berusaha mendapatkan rahmat Allah dan tidak bergantung kepada amal ibadah dan hanya bergantung dan berharap kepada Allah azza wa jalla.

Hal yang harus kita perhatikan adalah hikmah ini tidak dimaksudkan untuk meninggalkan ibadah. Yang dinginkan oleh pengarang kitab adalah kita tidak boleh menggantungkan diri kepada amalan, akan tetapi kepada rahmat Allah ta’ala. Di dalam hadits di katakana, “Allah tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga dengan amalannya”. Lalu para sahabat berkata, “begitu juga dengan engkau wahai nabi?”, nabi berkata, “begitu juga dengan saya, kecuali jika Allah sudah meletakkan fadhilah dan rahmat-Nya” . Para ulama sudah menggabungkan hadits ini dengan firman Allah yang berbunyi, udkhulul jannata bima kuntum ta’maluun (masuklah ke dalam surga Allah karena apa yang kalian lakukan). Sesungguhnya suatu amalan tidak dianggap kecuali hanya amalan yang diterima. Dan diterimanya suatu amalan itu murni berkat rahmat dan fadhol dari Allah ta’ala. Dan masuknya seseorang ke dalam surga itu juga murni rahmat dan karunia Allah.

Sesungguhnya amal ibadah adalah sebab yang nampak. Dan Allah hanya akan memberikan taufiknya kepada yang diridloinya. Dan semoga kita termasuk yang diridloi-Nya, amiin ya robbal alamiin,(al-Hikam, Syekh ibnu ‘Athoillah)

ORANG MURTAD DIBUNUHKAH

Sebagian orang mengira bahwa Islam tidak memberikan kebebasan berkeyakinan, karena agama Islam menetapkan hukuman mati bagi orang yang murtad. Bagaimanakah Islam menjawab masalah ini?

Permasalahan hukuman mati bagi orang yang murtad mendapatkan perhatian khusus oleh dunia pemikiran barat. Orang barat menganggapnya sebagai hal yang rancu. Mereka mengira bahwa agama Islam memaksa orang-orang agar mau masuk Islam, dan mengira bahwa orang-orang Islam telah melupakan ajaran Islam yang memberikan kebebasan berkeyakinan yang tercermin dalam firman Allah ta’ala, laa ikrooha fiddin, qod tabayyanar rusydu minal ghoy (al-Baqoroh: 256), artinya: “tidak ada paksaan untuk memeluk agama apapun. Sesungguhnya antara petunjuk dan kesesatan itu telah jelas”.

Sesungguhnya kita dapat melihat permasalahan hukuman mati bagi orang murtad ini dari dua segi. Segi yang pertama adalah hadits yang menyatakan halalnya darah seorang muslim apabila ia meninggalkan agamanya dan memecah belah kelompok (HR Ahmad, al-Bukhori, Muslim). Adapun segi yang kedua adalah prakek syareat dan cara pelaksanaan hukum ini pada masa nabi dan pada masa khulafaur rosyidin.

Pada masa nabi, kita bisa melihat bahwa nabi tidak membunuh Abdullah bin ubay, sang pembesar munafik. Nabi juga tidak mebunuh Dzulkhuwaisaroh at-Tamimi, seorang yang berkata kepada nabi, “berlakulah adil wahai nabi, sesungguhnya engkau tidak berlaku adil”. Nabi juga tidak membunuh orang yang mengatakan padanya, “orang-orang mengatakan bahwa engkau melarang kemungkaran, tetapi mengapa engkau membiarkannya”. Nabi juga tidak membunuh seorang sahabat yang mengatakan, “sodaqoh ini tidak aku maksudkan untuk mencari ridlo Allah”, dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan yang menyakiti dan merendahkan nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya kata-kata yang diucapkan itu dapat membawa pelakukanya kepada kekafiran. Dengan berkata seperti itu, mereka telah dihukumi keluar dari agama Islam, sebab apa yang mereka katakan itu mengandung pendustaan akan sifat amanah dan sifat adilnya seorang nabi.

Keputusan nabi Muhammad SAW untuk tidak membunuh mereka membawa kemaslahatan yang besar pada masa hidup nabi maupun sesudah nabi wafat. Hikmahnya adalah orang-orang tidak lari dari nabi karena mendengar bahwa nabi membunuh sahabat. Jika mereka mendengar bahwa nabi membunuh sahabat-sahabatnya maka banyak orang yang lari dan menjauh dari nabi. Karena tingginya akhlak Muhammad, ia tidak mempergunakan kebolehan Allah untuk membunuh mereka atau membalas dendam kepada mereka. Kebolehan untuk membunuh mereka telah disebutkan di dalam surat al-Ahzab. Allah berfirman, lainlam yantahil munaafiquuna walladzina fii quluubihim marodlun, wal murjifuuna fil madinah lanughriyannaka bihim, tsumma laa yujaawiruunaka fiiha illa qoliilla. Mal’uuniin, aina ma tsuqifuu ukhidzu, wa qutiluu taqtiila (al-Ahzab: 60-61), artinya: “sungguh jika orang-orang munafik, orang-orang yang memiliki penyakit di dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti menyakitimu (Muhammad), niscaya Kami perintahkan engkau untuk memerangi mereka. Kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu di Madinah kecuali hanya sebentar dan dalam keadaan terlaknat. Dimana saja mereka dijumpai, mereka akan ditangkap dan dibunuh tanpa ampun”.

Adapun pada masa khulafaurrosyidin, yaitu pada masa Umar bin Khottob, ada seseorang yang berkata kepada Umar, “wahai Umar! ada sekelompok orang Islam yang keluar dari agama Islam. Mereka masuk kedalam golongan orang-orang musyrik dan mereka ikut berperang bersama dengan mereka. Kemudian Umar mengucapkan istirja’ (inna lillahii wa inna ilaihi rooji’uun). Sahabat Anas berkata, “apakah mereka wajib dibunuh?”, Umar menjawab, “aku akan mengajak mereka untuk bertaubat dan masuk Islam kembali. Apabila mereka enggan, maka aku akan memenjarakan mereka” (HR al-Baihaqi). Riwayat ini menjelaskan bahwa Umar tidak memutuskan untuk membunuh mereka.

Peristiwa di atas mendorong para ulama fiqih untuk meneliti dan mencari bagaimana hukumnya membunuh orang murtad. Setelah penelitian yang panjang mereka menyimpulkan bahwa permasalahan hukuman mati bagi orang murtad tidaklah berhubungan dengan masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan. Dalil-dalil yang ada, baik dari al-Quran maupun al-Hadits yang sangat keras mengatakan agar orang yang keluar dari Islam itu dibunuh, tidak dipahami hanya sebatas pada faktor keluarnya dari agama Islam. Keluar dari Islam bukanlah sebuah tindak kejahatan yang membenarkan tindakan hukuman mati kepadanya. Meskipun tetap saja keluar dari Islam adalah sebuah tindakan pengkhianatan besar kepada hukum agama dan undang-undang pemerintah Islam.

Syekh Saltut, mantan Grend Syekh Universitas al-Azhar Cairo Mesir mengatakan bahwa hukuman mati bagi orang yang murtad bukanlah hukum Islam. Beliau mengatakan bahwa Hudud tidak bisa ditetapkan dengan hadits ahad (hadits yang hanya melewati satu jalur periwayatan). Kekufuran seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk dibunuh. Akan tetapi yang membolehkan dibunuhnya seseorang adalah karena ia memerangi kaum muslimin, menciptakan teror, dan menyebarkan fitnah.

Hukuman mati kepada kaum murtad tidak boleh dilakukan hanya sebatas alasan murtad. Akan tetapi mereka dihukum mati karena melakukan tindakan lebih selain kemurtadannya. Mereka melakukan tindakan memecah belah kaum muslimin. Mereka menggunakan kemurtadannya untuk menjadikan orang-orang muslim menjadi murtad. Itulah tindakan-tindakan yang termasuk dalam kategori memerangi agama Islam sebagaimana firman Allah, wa qoolat thooifun min ahlil kitaabi aaminuu billadzii unzila ‘alalladziina aamanuu wajhannahari wakfuruu aakhirohuu la’allahum yarji’uun (ali-Imron: 72), artinya: “dan segolongan ahli kitab berkata kepada sesamanya, berimanlah engkau atas apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman pada siang hari dan ingkarilah di waktu malam, agar mereka kembali kepada kekafiran”. Menguatkan hal itu Syekh Islam Ibnu Taimiyyah berkata bahwasanya nabi telah menerima taubatnya sekelompok orang yang telah murtad, dan beliau memerintahkan untuk membunuh kelompok murtad lainnya. Sebab mereka yang dibunuh ini melakukan tindakan yang menyakiti orang-orang Islam dan menciptakan bahaya kepada mereka. Seperti perintah nabi untuk membunuh Muqoyyis bin Hababah di hari Fathul Makkah. Karena disamping murtad ia juga membunuh dan mengambil harta-harta orang muslim. Dan setelah itu ia tidak bertaubat.

Nabi juga memerintahkan untuk membunuh Quronain, Ibnu Khotul, Ibnu Abi Sarah, karena disamping murtad, mereka juga membunuh, merampok, dan melakukan tindakan penipuan terhadap kaum muslimin.

Dari penjelasan di atas, maka jelaslah bahwa masalah hukuman mati kepada orang yang murtad tidak pernah dipraktekkan sepanjang sejarah di zaman nabi maupun khulafaur rosyidin. Hukuman mati dilaksanakan apabila orang murtad itu melakukan tindakan yang menyakiti umat Islam. Wallahu ta’ala a’la wa a’alam.

MEMBENTENGI DIRI DENGAN FOKUS MENUJU ALLAH

Salah satu pondasi pokok yang sering dikatakan oleh para sufi dalam thoriq ilallah adalah multafitun fi thoriqillah la yasil (menyimpang dari jalan Allah maka tidak akan sampai). Multafitun berasal dari kata iltifaat yang berarti sibuk dengan segala sesuatu selain Allah ta’ala. Apabila tersingkap beberapa asroor (rahasia) dan anwaar (cahaya), kita harus tetap meneruskan perjalanan menuju Allah. Orang-orang soleh sering mengatakan, “jika tersingkap rahasia-rahasia dan cahaya-cahaya padaku, maka aku segera meminta kepada Allah agar menghilangkannya, karena aku tidak menginginkannya”.

Kasyf (ketersingkapan) ini banyak terjadi pada murid yang baru saja menempuh perjalanan menuju Allah. Apabila ia sudah sampai di tengah atau di akhir, tidak akan ada lagi kasyf. Hal ini berarti bahwa ketika ia meningkat ke derajat dan maqom-maqom di atas, Allah akan menutup kasyf baginya, dan ia akan kembali lagi seperti manusia pada umumnya. Ia tidak lagi memiliki kekhususan dan keistimewaan. Maksud dari semuanya adalah Allah ‘azza wajalla. Beribadah hanya semata-mata karena Allah ta’ala. Nabi bersabda, “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan bagi manusia apa yang diniatkannya”.(HR Bukhori)

Adapun orang-orang yang tenggelam ke dalam dunia dan mencari kenikmatan melalui thoriqoh adalah sebenar-benar bid’ah. Inilah syahwat syaitoniyyah. Jangan sampai kita termasuk golongannya. Suatu ketika ada seseorang yang bertanya kepada Syekh Abu Yazid al-Bustomi, “Wahai Abu Yazid, aku sudah lama beribadah, tetapi mengapa aku tidak merasakan lezatnya ibadah?” Abu Yazid menjawab, “Karena engkau menyembah ibadah. Sembahlah Allah maka engkau akan mendapatkan manisnya ibadah”.

Banyak orang yang bangun malam agar paginya dia bisa berkata bahwa dirinya melaksanakan shalat tahajud. Itu pertanda dirinya tidak ikhlas dalam ibadah. Berbeda dengan wali Allah yang beribadah karena ia rindu kepada Allah ta’ala. Dua kondisi yang jauh berbeda. Orang pertama berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia bangun malam, ia sembunyikan ibadahnya, dan tidak ada seorang pun yang melihatnya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang tersebut sedang berkata kepada nafsunya dengan bangga bahwa dirinya adalah orang soleh. Adapun orang yang kedua bangun malam karena rindu kepada Allah ta’ala. Ia tidak peduli apakah ibadahnya akan dilihat orang lain atau tidak. Ia tidak mempedulikan adanya orang yang akan memujinya atau tidak. Di benaknya tidak pernah terlintas tentang perasaan tersebut. Di hatinya hanya ada ruang untuk Allah ta’ala. Perbedaan antara kedua orang ini sangatlah besar. Oleh karena itu Abu Yazid berkata, “Engkau menyembah ibadah sehingga engkau tidak merasakan lezatnya ibadah. Jadi, sembahlah Allah maka engkau akan merasakan lezatnya ibadah”.

Cerita lainnya dari Syekh Abdul Qadir Jaelani. Suatu ketika sang Syekh berkholwat dalam suatu ruangan yang gelap. Tiba-tiba muncul cahaya yang bersinar sangat terang. Kemudian ia mendengar suara yang membuatnya merasakan sesuatu yang enak. Suara itu berkata “Wahai Abdul Qadir, sesungguhnya Allah ingin berkata padamu”, “iya” sahut Syekh. Suara itu berkata lagi “Sesungguhnya aku mencintaimu”. Ketika ia mendengar suara itu, sang Syekh merasa seolah-olah hatinya meleleh seperti melelehnya garam dalam air. Suara itu berkata lagi, “Aku akan mendekatkanmu kepadaku”. Rasa nikmat dan senang yang luar biasa membuat sang Syekh meneteskan air mata. Suara itu lalu berkata lagi, “Aku halalkan bagimu segala yang diharamkan sebelumnya”. Sang Syekh heran dan mendadak berteriak seketika itu juga, “Enyahlah kamu hai syetan laknat!!”. Syekh Abdul Qadir langsung berkata seperti itu tanpa harus berpikir panjang. Hatinya yang jernih tidak memerlukan banyak waktu untuk berfikir apakah sesuatu yang  haram itu bisa menjadi halal atau tidak. Ia sudah tahu ‘hakekat’ sejak awal mula ia berjalan menuju Allah ta’ala. Akhirnya sinar terang itu menjadi padam dan suara bagus yang enak didengar itu berubah menjadi suara yang sangat buruk dan memekakkan telinga. Suara itu kemudian berkata, “Aku mengeluarkan tujuh puluh ahli ibadah dari lingkaran ‘ubudiyyah (penghambaan kepada Allah ta’ala) dengan cara ini wahai Abdul Qadir. Tapi ilmumu menyelamatkanmu”. Maksudnya, dengan cara ini syetan mengeluarkan tujuh puluh ahli ibadah itu dari jalan Allah menuju jalan syetan.

Orang-orang yang sudah ma’rifat kepada Allah ta’ala dan yang hanya memiliki satu tujuan hidup yaitu Allah, adalah para ahlullah. Mereka telah melakukan praktek-praktek ibadah yang harus kita ketahui dan kita ikuti. Jika seandainya kita tinggalkan ajaran para sufi dengan mencoba melangkah sendiri berjalan menuju Allah ta’ala dan kemudian terjadi pada kita seperti apa yang terjadi pada Syekh Abdul Qadir Jaelani, kemungkinan kita akan tertipu. Cahaya dan suara yang sebenarnya itu adalah jelmaan iblis la’natullah. Kita akan mengira bahwa Allah benar-benar sudah menghalalkan sesuatu yang haram hukumnya. Ini yang berbahaya.

Untuk itu kita perlu mendengarkan para wali Allah mengenai praktek ibadah. Kita perlu menyimak setiap kalimat yang keluar dari lisannya, memperhatikan nasehat-nasehatnya dan memohon petunjuk-petunjuknya. Dengan demikian kita akan mengerti tentang istilah jalan, iltifat, kasyf, tahliyyah, tajallu, taubat, ridlo, tawakkal, dzikr, dan lain-lain. Selain itu kita juga akan belajar dari para sufi mengenai apa yang akan terjadi jika kita mengamalkan sesuatu. Kita menjadi paham cara menghidupkan makna-makna dan mempraktekkan agama Islam secara benar yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits pada kehidupan mereka dalam waktu yang lama. Mereka juga sudah berteman dan berguru kepada para siddiqin dan para ahli ma’rifah yang telah memberitahu mereka mengenai lubang-lubang yang harus dihindari dan bagaimana berjalan menuju Allah ta’ala dengan mata hati yang jernih.

 

 

TAREKAT

Apakah hukumnya memasuki thoriqoh shufiyah, dan mengapa thoriqoh itu banyak jumlahnya. Dan mengapa seorang muslim sangat membutuhkan ilmu tashawwuf? Tashawwuf adalah metode yang digunakan untuk mendidik ruh dan akhlak manusia yang bertujuan untuk meningkatkan maqom (tingkatan) seorang muslim sampai ke tingkatan ikhsan (memandang Allah). Nabi Muhammad SAW bersabda, an ta’budallaha kaannaka taroohu, fain lam takun taroohu fainnahu  yarooka (HR Ahmad, Bukhori), artinya: “ikhsan adalah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak melihat-Nya maka Allah melihat engkau”.

Tashawwuf adalah metode yang mendidik manusia, agar ia mensucikan hatinya dari segala penyakit hati yang dapat menghalangi manusia dari Allah ta’ala. Disamping itu juga berfungsi untuk meluruskan jiwa-jiwa yang menyimpang dari jalan lurus, dan menjauhkannya dari akhlak yang buruk dalam hubungannya dengan Allah ta’ala dan dengan sesama manusia.

Thoriqoh shufiyyah dapat diibaratkan sebagai sebuah sekolah yang mempelajari metode-metode pembersihan noda jiwa dan meluruskan adab manusia. Seorang syekh adalah guru yang akan mendidik para murid di dalam sekolah ini.

Sesungguhnya jiwa dan hati manusia banyak terjangkit dengan penyakit-peyakit hati, diantaranya sombong, menipu, egois, pelit, marah, riya’, menyukai maksiat, membenci, dengki, dendam, tama’, dan lain-lain. Allah berfirman, wa maa ubarri’u nafsii,innafsa la ammarotun bissuui illa maa rokhima robbi. Inna robbi gofuurur rokhiim (Yusuf: 53), artinya: “dan aku tidak menyatakan diri bebas dari kesalahan, karena sesunggunya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. Sesungguhnya kaum muslimin pada masa-masa awal sangat memahami pentingnya pendidikan jiwa dan hati dan menyucikanya dari segala penyakit-penyakit hati, agar ia dapat berjalan cepat agar sampai kepada Allah ta’ala.

Thoriqoh shufiyyah yang dibenarkan di dalam agama Islam harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut,

  1. Berpegang kepada al-Qur’an dan al-Hadits. Setiap hal yang bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits tidak dinamakan Thoriqoh. Thoriqoh sangat menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan al-Kitab dan as-Sunah.
  2. Ilmu dan pengajaran Thoriqoh tidak terlepas dari ilmu syareat. Justru sebaliknya thoriqoh adalah inti syareat.

Adapun ciri-ciri thoriqoh yang benar adalah,

  1. Memperhatikan dan mengawasi hati dan mensucikan jiwa dari segala penyakit-penyakitnya. Allah berfirman, wa nafsiw wamaa sawwaha, fa alhamaha fujuurohaa wa taqwaaha, qod aflaha man zakkaha wa qod khooba man dassaaha (as-Syamsy: 7-11), artinya: “demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya!,  Dia telah mengilhamkan kepada jiwa jalan kejahatan dan jalan ketaqwaannya. Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya”.
  2. Banyak berdzikir kepada Allah ta’ala. Allah berfirman, yaa ayyuhalladziina aamnudzkurulllaha dzikron katsiiraa (al-Ahzab: 41), artinya: “wahai orang-orang yang beriman!, berdzikirlah kalian semua kepada Allah ta’ala dengan dzikir yang banyak”. Nabi bersabda, laa yazaalu lisaanuka rothban min dzikrillahi (hendaknya lisanmu itu menjadi basah karena berdzikir mengingat Allah).
  3. Zuhud dari dunia, tidak bergantung kepadanya, dan mencintai akherat. Allah berfirman, wa mal khayaatutdunya illa la’ibun wa lahwun. Wa laddarul aakhirotu khoirullildziina yattaquun, afalaa ta’qiluun (al-An’am: 32), artinya: “dunia ini hanyalah permainan dan sandiwara. Dan sesungguhnya kehiduan akherat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Apakah engkau tidak berfikir?”.

Di dalam thoriqoh ada seorang syekh (guru) yang akan mengajari para murid dengan berbagai macam dzikir dan menjelaskan kepada mereka bagaimana cara mensucikan jiwa dari segala macam penyakit-penyakitnya, dan mengobati mereka dengan obat-obat hati. Seorang Syekh diberi keistimewaan oleh Allah mampu melihat penyakit-penyakit yang menjangkit hati para murid, lalu beliau akan memberikan obat yang sesuai untuk murid-muridnya. Obat hati yang diberikan oleh syekh kepada setiap murid berbeda-beda, menurut kondisi dan keadaan si murid.

Sesungguhnya nabi Muhamad SAW memiliki nasehat yang berbeda kepada orang yang berbeda, karena beliau mengetahui nasehat apa yang sesuai dengan kondisi hati dan jiwa masing-masing orang. Pada suatu hari datang seorang laki-laki kepada Rasulullah, “wahai nabi!, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang dapat menjauhkanku dari marah Allah”. Nabi menjawab, “jangan marah!”. Kemudian datang orang lain yang bertanya kepada nabi Muhammad SAW, dan beliau berkata kepada orang itu, “hendaknya lisanmu itu menjadi basah karena selalu mengingat Allah ta’ala!”. Karena kondisi jiwa yang berbeda, setiap orang memiliki kecenderungan yang berbeda untuk melakukan ibadah yang disukainya. Diantara sahabat nabi ada yang gemar bangun malam, ada yang menyukai membaca al-Qur’an, ada yang memilih berjihad di jalan Allah, ada yang senang berdzikir, dan ada pula yang gemar memberikan sodaqoh.

Hal Ini bukan berarti melakukan ibadah yang satu, lalu meninggalkan ibadah yang lain. Akan tetapi ada ibadah tertentu yang ditekuni oleh seorang yang menjadikan jalan baginya untuk berjalan menuju Alah ta’ala. Oleh karena itu jumlah pintu surga itu bermacam-macam. Nabi Muhammad SAW bersabda, “orang yang menekuni suatu amal ibadah memiliki satu pintu dari pintu-pintu surga. Mereka akan berdo’a dan memohon dengan amal itu”. Dan orang yang suka berpuasa memiliki suatu pintu yang dinamakan dengan pintu royyan (HR Bukhori, Muslim). Seperti halnya dengan madrasah thoriqoh, para murid menekuni suatu amalan yang ia sukai. Ada yang suka memperbanyak membaca al-Qur’an, ada yang senang berpuasa, shodaqoh, dan lain sebagainya.

Dari keterangan di atas sekarang kita sudah memahami apa itu thoriqoh yang benar. Di dalam thoriqoh ada seorang syekh dan para murid yang mentaati aturan syareat yang semuanya berpegang kepada al-Kitab dan as-Sunnah. Dan sekarang kita juga sudah mengerti mengenai sebab yang menyebabkan munculnya banyak thoriqoh, yaitu karena perbedaan cara dan metode penyembuhan hati. Akan tetapi meskipun banyak jalan yang berbeda-beda tetapi semuanya mengantarkan kepada tujuan yang sama yaitu Allah ‘azza wa jalla.

Kami juga tidak lupa untuk mengingatkan adanya kelompok yang mengaku-aku sebagai orang yang paling memahami tashawwuf dan menyebut dirinya sebagai orang sufi. Padahal sebenarnya mereka itu orang yang tidak memiliki agama. Mereka adalah orang yang biasa menari dan melenggak-lenggok di dalam peringatan maulud nabi. Mereka gemar melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari jalan lurus. Mereka itu bukanlah orang sufi dan tidak masuk dalam wilayah at-Thuruq as-Shufiyyah (jalannya orang sufi). Thoriqoh sufhiyyah adalah jalan yang mengantarkan seseorang untuk sampai kepada kedekatan kepada Alah ta’ala. Jalan ini sangat berpegang teguh kepada ajaran al-Qur’an dan al-Hadits.

Disamping itu kami juga tidak lupa mengingatkan sekelompok orang yang dengan sombongnya mengatakan bahwa mengapa kita tidak mempelajari cara beradab dan berakhlak yang baik atau cara mensucikan jiwa secara langsung dari sumbernya, al-Qur’an dan al-Hadits. Ini adalah sebuah perkataan yang secara dzohir ini nampak benar, tetapi sebenarnya salah. Sesungguhnya kita tidak mungkin dapat mengetahui rukun-rukun dan sunnah-sunnah shalat secara langsung mengambil dari al-Qur’an dan al-Hadits. Akan tetapi kita mempelajarinya dari ilmu yang diciptakan oleh para ulama yang dinamakan dengan ilmu fiqih. Di dalam ilmu fiqih kita akan menemukan rukun-rukun shalat, sunnah-sunnah shalat, dan hukum-hukum permasalahan yang diambil dan disarikan dari al-Qur’an dan al-Hadits. Tidak ada seorang alimpun pada masa ini yang dapat mengambil hukum secara langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits.

Ada hal-hal yang tidak disebutkan di dalam al-Qur’an dan al-hadits, oleh sebab itu kita harus belajar kepada seorang syekh dengan cara mendengarkan nasehat dan petuah-petuahnya. Karena tidak mungkin kita bisa mempelajari ilmu tajwid secara langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits. Ada istilah-istilah di dalam ilmu tajwid yang hanya bisa kita dapatkan dari seorang guru dan syekh. Seperti contohnya, mad lazim itu panjangnya enam harokat. Kita akan bertanya siapa yang menamakan mad itu dengan mad lazim, lalu mana dalilnya?, seorang ulama yang ahli dalam ilmu tajwidlah yang akan menjawab dan menjelaskan ini semua. Begitu juga dengan ilmu tashawuf, ilmu tashawuf adalah ilmu yang diciptakan pada zaman Imam  Junaid al-Baghdadi, yaitu sejak abad ke 4 hijriyah dan masih ada sampai zaman sekarang.

Ketika zaman telah rusak dan akhlak yang buruk telah menyebar, maka rusaklah sebagian thoriqoh shufiyah. Banyak orang yang mengira bahwa inilah thoriqoh shufiyyah. Akan tetapi Allah akan terus menjaga tasawwuf yang benar dan para ahlinya serta akan melindungi mereka dengan perlindungan-Nya. Allah berfirman, innallaha sayudafi’u ‘anilladziina aaamanuu. Innallaha la yuhibbu kulla khowwanin kafuur (al-hajj: 38), artinya: “sesunggunya Allah akan melindungi orang-orang yang beriman. Dan sesunggunya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat dan orang yang kufur nikmat”.

Inilah penjelasan singkat mengenai tashawuf, thoriqoh, syekh, dan sebab munculnya banyak thoriqoh. Dan sekarang, kita sudah memahami mengapa kita harus mempelajari akhlaq dan cara membersihkan jiwa dari ilmu tasawwuf, dan kita tidak mempelajarinya secara langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits. Mari kita memohon kepada Allah ta’ala agar menunjukkan kepada kita pemahaman yang benar mengenai tashawuf dan thoriqoh. Wallahu ta’al a’la wa a’la
( al-bayan, Syekh Ali Jum’ah, mantan Mufti Mesir)

 

 

KAROMAH

Benarkah adanya karomah (hal yang luar biasa) yang terjadi pada orang-orang yang soleh di masa hidup mereka, dan apakah karomah ini akan tetap ada setelah wafatnya?. Karomah adalah perkara yang terjadi di luar kebiasaan manusia, yang tidak dibarengi dengan pengakuannya sebagai nabi, atau pendahuluan sebelum menjadi nabi. Karomah adalah sesuatu yang menakjubkan yang Allah tampakkan pada hamba-hambanya yang soleh, yang senantiasa selalu melaksanakan syareat Islam dan beristiqomah mengikuti sunah nabi Muhammad SAW.

Para ulama mensyaratkan bahwa karomah harus terjadi pada orang yang mentaati aturan syareat Islam dan mengikuti sunah nabi Muhammad SAW. Syarat ini berfungsi untuk menolak pengakuan orang yang memiliki kelebihan, akan tetapi ia tidak melaksanakan syareat agama dan tidak mentaati perintah Allah dan rasul-Nya.

Beriman kepada karomah para wali dan kekasih Allah termasuk dasar aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Imam at-Thohawi berkata, “kami beriman kepada karomah-karomah para wali Allah yang diriwayatkan dengan sanad orang-orang yang terpercaya (al-aqidah at-thokhawiyah).

Sesunggunya mengingkari adanya karomah wali dapat mengeluarkan seorang muslim dari agama Islam. Karena percaya pada karomah wali termasuk prinsip aqidah islam. Pelaku karomah pada hakekatnya adalah Allah ta’ala, dan Dia ingin menampakannya pada diri hamba-hamba-Nya yang taat dan patuh kepada syareat-Nya sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasan-Nya.

Imam al-Jalal al-Makhalli mengatakan bahwa karomah dapat terjadi pada diri orang-orang yang soleh, yang mentaati peritah Allah ta’ala dan yang menjauhi perbuatan maksiat. Orang soleh ini senantiasa menolak menceburkan dirinya di dalam godaan syahwat, sehingga dengan kesalehan ini ia mendapatkan karomah. Diantara contoh karomah yang pernah terjadi adalah mengalirnya sunggai nil dengan sebab surat dari sayyidina Umar rodliyallahu ‘anh. Contoh lainnya Umar dapat melihat penglima perangnya yang sedang berperang di Nahawan, bahkan Umar dapat berkata kepada panglima tadi yang benama Sariyah, dan Sariah dapat mendengar suara Umar. Umar berkata kepada Sariyah, “wahai Sariah! gunung! gunung!”, yang bermaksud memberitahunya bahwa ada musuh di balik gunung. Contoh lainnya adalah sahabat Kholid bin Walid yang berani meminum segelas racun yang mematikan, tetapi anehnya racun ini sama sekali tidak memiliki efek sedikitpun pada tubuh Kholid. Dan masih banyak hal-hal menakjubkan lainnya terjadi pada diri para sahabat rodliyallahu ‘anhum (syarkh jalaluddin al-makhalli li jam’il jawami’).

Ibnu Taimiyyah berkata, “ada orang-orang solah yang dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang di luar kebiasaan manusia, karena sebab keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah ta’ala. Hal itu dinamakan karomah (al-fatawa al-kubro).

Para ulama mengatakan bahwa yang termasuk karomah para wali adalah kemampuan mereka untuk melihat sesuatu yang ghaib. Mengenai masalah ini Ibnu ‘Abidin mengatakan, “termasuk salah satu bentuk karomah para wali adalah kemampuan mereka melihat dan mengetahui hal-hal ghaib. Para ulama sangat menolak madzhab muktazilah yang menolak adanya karomah karena bersandar dengan ayat ‘alimulghoibi fa laa yudhhiru ‘ala ghobihi ahadan, illamanir tadlo min rusul (al-Jin: 26-27), artinya: “Allah adalah Dzat yang mengetahui hal-hal yang ghaib, dan Dia tidak akan menampakkan hal ghaib itu kepada seorangpun kecuali rasul yang ia ridloi”. Para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan rasul pada ayat ini adalah malaikat. Jadi maknanya, Allah tidak akan menampakkah hal yang ghaib kepada seorang pun dengan tanpa perantara, kecuali malaikat. Adapun nabi-nabi dan wali-wali Allah terkadang ditampakkan atas mereka hal-hal ghaib, tetapi dengan perantara malaikat (khasyiyah Ibnu ‘Abidin).

Karomah-karomah orang-orang yang soleh banyak terjadi pada saat mereka masih hidup. Dan tidak ada dalil yang menunjukkan berakhirnya karomah setelah mereka wafat. Justru yang ada adalah dalil yang menunjukkan sebaliknya. Bahwasanya karomah para wali dan kekasih Allah itu masih tetap ada setelah wafatnya. Telah diriwayatkan, bahwa Allah menjaga jasadnya ‘Ashim bin Tsabit setelah wafatnya, kemudian Allah membangkitkan jasad ‘Ashim dan ia melindungi kaum muslimin dari serangan musuh (HR Bukhori, Ibnu-Habban, Al-Hakim).

Imam al Bujairimi mengatakan, “ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya, “apabila ada mayit yang membaca surat sajdah (sebagai karomahnya), apakah orang yang mendengarnya disyareatkan untuk bersujud?’”. Sang guru menjawab, “iya disunnahkan untuk bersujud, sebab karomah para wali Allah itu tidak hilang karena sebab wafatnya. Dan mungkin bisa terjadi bagi mayit untuk membaca al-Qur’an sebagai bentuk karomah yang diberikan Allah kepadanya, karena mayit itu tidak sama dengan benda mati (khasyiyatul bujairimi).

Dari penjelasan singkat di atas dapat kita simpulkan bahwa beriman kepada karomah para wali dan kekasih Allah termasuk permasalahan aqidah yang sudah disepakati oleh para ulama. Barang siapa yang mengingkari karomah maka aqidahnya masih dipertanyakan, dan perbuatannya bisa mengeluarkan dirinya dari agama Islam, na’udlubillahi min dzaalik. Seorang muslim yang baik hendaknya tidak mengingkari karomah hamba-hamba Allah yang soleh di masa hidupnya maupun setelah meninggalnya. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam. (terjemah kitab al-bayan).

 

MEMBACA AL-QUR’AN UNTUK SI MAYIT

Apakah hukum membaca al-Qur’an untuk si mayit di atas kuburannya, dan apakah pahalanya akan sampai kepada si mayit? Para ulama telah bersepakat bahwa membaca al-Qur’an di atas kuburan tidak haram dan pelakunya tidak mendapatkan dosa. Sebagian besar ulama dari madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali mengatakan kesunahannya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas, ia berkata, nabi bersabda, “barang siapa yang memasuki kuburan kemudian membaca surat Yasin maka si mayit akan mendapatkan keringanan di dalam kuburnya dan ia akan mendapatkan kebaikan dengannya” (al-mughni). Diriwayatkan bahwa sahabat Ibnu Umar rodliyallahu ‘anhuma berwasiat agar ketika ia dikuburkan dibacakan untuknya awal dari surat al-Baqoroh dan akhir surat al-Baqoroh (al-mughni, tukhfatul akhwadz).

Adapun ulama yang bermadzhab Maliki mengatakan makruhnya membaca al-Qur’an di atas kuburan. Akan tetapi syekh Dardiri mengatakan, “sebagian ulama madzhab Maliki berpendapat bahawa boleh untuk membaca al-Qur’an di atas kuburan, berdzikir, dan mengirimkan pahalanya untuk si mayit. Dan orang yang membacanya juga akan mendapatkan pahalanya insyaAllah (as-syarkhul kabiir).

Sesungguhnya madzhab yang mensunahkan membaca al-Qur’an adalah yang paling kuat. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa masalah ini seakan-akan telah menjadi ijma’. Adapun ulama yang mengatakan bahwa masalah ini sudah menjadi ijma’ adalah Ibnu Qudamah al-Muqodasi al-Hambali. Beliau mengatakan bahwa jika ada suatu negeri yang penduduknya melakukan hal ini dan megirimkan pahalanya untuk si mayit muslim maka pahala itu akan sampai insyaAllah.

Banyak ulama mengatakan bahwa apabila seorang mayit dibacakan al-Qur’an dan pahalanya dihadiahkan untuknya maka yang membaca al-Qur’an juga akan mendapatkan pahala. Jadi seolah-olah si mayit itu hadir di hadapannya, kemudian si mayit mendo’akan bagi si pembaca al-Qur’an agar ia mendapatkan rahmat. Hal ini sudah menjadi ijma’ seluruh kaum muslimin. Semua muslim dimanapun dan kapan pun telah melakukan amalan ini. Mereka menghadiahkan pahala bacaan al-Qur’an untuk si mayit dan tidak ada seorang ulamapun yang mengingkarinya (al-mughni).

Ulama lain mengatakan bahwa masalah ini sudah menjadi ijma’ adalah Syekh al-Utsmani. Beliau mengatakan bahwa kaum muslimin telah bersepakat untuk beristghfar, berdo’a, bersodaqoh, dan berhaji, dan memberikakan pahala dan manfaatnya untuk si mayit. Dan membaca al-Qur’an di kuburan itu termasuk perbuatan sunnah.

Para ulama berpendapat akan sampainya pahala bacaan al-Qur’an untuk si mayit. Mereka juga mengatakan sampainya pahala haji untuk si mayit, karena haji itu mencakup shalat, dan di dalam shalat ada bacaan fatehah dan lainnya. Apabila semuanya bisa sampai, maka yang sebagian juga akan sampai. Pahala bacaan al-Qur’an akan sampai kepada si mayit dengan izin Allah ta’ala apabila pembaca berniat untuk memberikan pahala bacaan itu kepada si mayit.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ulama telah menyatakan bahwa pahala bacaan al-Qur’an itu akan sampai, dan sedikit ulama yang berbeda pendapat dengan mayoritas ulama. Oleh karena itu hendaknya kita tidak berselisih di dalam masalah ini. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam. (al-bayan Prof Ali Jum’ah)