MEMBENTENGI DIRI DENGAN FOKUS MENUJU ALLAH

Salah satu pondasi pokok yang sering dikatakan oleh para sufi dalam thoriq ilallah adalah multafitun fi thoriqillah la yasil (menyimpang dari jalan Allah maka tidak akan sampai). Multafitun berasal dari kata iltifaat yang berarti sibuk dengan segala sesuatu selain Allah ta’ala. Apabila tersingkap beberapa asroor (rahasia) dan anwaar (cahaya), kita harus tetap meneruskan perjalanan menuju Allah. Orang-orang soleh sering mengatakan, “jika tersingkap rahasia-rahasia dan cahaya-cahaya padaku, maka aku segera meminta kepada Allah agar menghilangkannya, karena aku tidak menginginkannya”.

Kasyf (ketersingkapan) ini banyak terjadi pada murid yang baru saja menempuh perjalanan menuju Allah. Apabila ia sudah sampai di tengah atau di akhir, tidak akan ada lagi kasyf. Hal ini berarti bahwa ketika ia meningkat ke derajat dan maqom-maqom di atas, Allah akan menutup kasyf baginya, dan ia akan kembali lagi seperti manusia pada umumnya. Ia tidak lagi memiliki kekhususan dan keistimewaan. Maksud dari semuanya adalah Allah ‘azza wajalla. Beribadah hanya semata-mata karena Allah ta’ala. Nabi bersabda, “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan bagi manusia apa yang diniatkannya”.(HR Bukhori)

Adapun orang-orang yang tenggelam ke dalam dunia dan mencari kenikmatan melalui thoriqoh adalah sebenar-benar bid’ah. Inilah syahwat syaitoniyyah. Jangan sampai kita termasuk golongannya. Suatu ketika ada seseorang yang bertanya kepada Syekh Abu Yazid al-Bustomi, “Wahai Abu Yazid, aku sudah lama beribadah, tetapi mengapa aku tidak merasakan lezatnya ibadah?” Abu Yazid menjawab, “Karena engkau menyembah ibadah. Sembahlah Allah maka engkau akan mendapatkan manisnya ibadah”.

Banyak orang yang bangun malam agar paginya dia bisa berkata bahwa dirinya melaksanakan shalat tahajud. Itu pertanda dirinya tidak ikhlas dalam ibadah. Berbeda dengan wali Allah yang beribadah karena ia rindu kepada Allah ta’ala. Dua kondisi yang jauh berbeda. Orang pertama berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia bangun malam, ia sembunyikan ibadahnya, dan tidak ada seorang pun yang melihatnya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang tersebut sedang berkata kepada nafsunya dengan bangga bahwa dirinya adalah orang soleh. Adapun orang yang kedua bangun malam karena rindu kepada Allah ta’ala. Ia tidak peduli apakah ibadahnya akan dilihat orang lain atau tidak. Ia tidak mempedulikan adanya orang yang akan memujinya atau tidak. Di benaknya tidak pernah terlintas tentang perasaan tersebut. Di hatinya hanya ada ruang untuk Allah ta’ala. Perbedaan antara kedua orang ini sangatlah besar. Oleh karena itu Abu Yazid berkata, “Engkau menyembah ibadah sehingga engkau tidak merasakan lezatnya ibadah. Jadi, sembahlah Allah maka engkau akan merasakan lezatnya ibadah”.

Cerita lainnya dari Syekh Abdul Qadir Jaelani. Suatu ketika sang Syekh berkholwat dalam suatu ruangan yang gelap. Tiba-tiba muncul cahaya yang bersinar sangat terang. Kemudian ia mendengar suara yang membuatnya merasakan sesuatu yang enak. Suara itu berkata “Wahai Abdul Qadir, sesungguhnya Allah ingin berkata padamu”, “iya” sahut Syekh. Suara itu berkata lagi “Sesungguhnya aku mencintaimu”. Ketika ia mendengar suara itu, sang Syekh merasa seolah-olah hatinya meleleh seperti melelehnya garam dalam air. Suara itu berkata lagi, “Aku akan mendekatkanmu kepadaku”. Rasa nikmat dan senang yang luar biasa membuat sang Syekh meneteskan air mata. Suara itu lalu berkata lagi, “Aku halalkan bagimu segala yang diharamkan sebelumnya”. Sang Syekh heran dan mendadak berteriak seketika itu juga, “Enyahlah kamu hai syetan laknat!!”. Syekh Abdul Qadir langsung berkata seperti itu tanpa harus berpikir panjang. Hatinya yang jernih tidak memerlukan banyak waktu untuk berfikir apakah sesuatu yang  haram itu bisa menjadi halal atau tidak. Ia sudah tahu ‘hakekat’ sejak awal mula ia berjalan menuju Allah ta’ala. Akhirnya sinar terang itu menjadi padam dan suara bagus yang enak didengar itu berubah menjadi suara yang sangat buruk dan memekakkan telinga. Suara itu kemudian berkata, “Aku mengeluarkan tujuh puluh ahli ibadah dari lingkaran ‘ubudiyyah (penghambaan kepada Allah ta’ala) dengan cara ini wahai Abdul Qadir. Tapi ilmumu menyelamatkanmu”. Maksudnya, dengan cara ini syetan mengeluarkan tujuh puluh ahli ibadah itu dari jalan Allah menuju jalan syetan.

Orang-orang yang sudah ma’rifat kepada Allah ta’ala dan yang hanya memiliki satu tujuan hidup yaitu Allah, adalah para ahlullah. Mereka telah melakukan praktek-praktek ibadah yang harus kita ketahui dan kita ikuti. Jika seandainya kita tinggalkan ajaran para sufi dengan mencoba melangkah sendiri berjalan menuju Allah ta’ala dan kemudian terjadi pada kita seperti apa yang terjadi pada Syekh Abdul Qadir Jaelani, kemungkinan kita akan tertipu. Cahaya dan suara yang sebenarnya itu adalah jelmaan iblis la’natullah. Kita akan mengira bahwa Allah benar-benar sudah menghalalkan sesuatu yang haram hukumnya. Ini yang berbahaya.

Untuk itu kita perlu mendengarkan para wali Allah mengenai praktek ibadah. Kita perlu menyimak setiap kalimat yang keluar dari lisannya, memperhatikan nasehat-nasehatnya dan memohon petunjuk-petunjuknya. Dengan demikian kita akan mengerti tentang istilah jalan, iltifat, kasyf, tahliyyah, tajallu, taubat, ridlo, tawakkal, dzikr, dan lain-lain. Selain itu kita juga akan belajar dari para sufi mengenai apa yang akan terjadi jika kita mengamalkan sesuatu. Kita menjadi paham cara menghidupkan makna-makna dan mempraktekkan agama Islam secara benar yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits pada kehidupan mereka dalam waktu yang lama. Mereka juga sudah berteman dan berguru kepada para siddiqin dan para ahli ma’rifah yang telah memberitahu mereka mengenai lubang-lubang yang harus dihindari dan bagaimana berjalan menuju Allah ta’ala dengan mata hati yang jernih.

 

 

TAREKAT

Apakah hukumnya memasuki thoriqoh shufiyah, dan mengapa thoriqoh itu banyak jumlahnya. Dan mengapa seorang muslim sangat membutuhkan ilmu tashawwuf? Tashawwuf adalah metode yang digunakan untuk mendidik ruh dan akhlak manusia yang bertujuan untuk meningkatkan maqom (tingkatan) seorang muslim sampai ke tingkatan ikhsan (memandang Allah). Nabi Muhammad SAW bersabda, an ta’budallaha kaannaka taroohu, fain lam takun taroohu fainnahu  yarooka (HR Ahmad, Bukhori), artinya: “ikhsan adalah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak melihat-Nya maka Allah melihat engkau”.

Tashawwuf adalah metode yang mendidik manusia, agar ia mensucikan hatinya dari segala penyakit hati yang dapat menghalangi manusia dari Allah ta’ala. Disamping itu juga berfungsi untuk meluruskan jiwa-jiwa yang menyimpang dari jalan lurus, dan menjauhkannya dari akhlak yang buruk dalam hubungannya dengan Allah ta’ala dan dengan sesama manusia.

Thoriqoh shufiyyah dapat diibaratkan sebagai sebuah sekolah yang mempelajari metode-metode pembersihan noda jiwa dan meluruskan adab manusia. Seorang syekh adalah guru yang akan mendidik para murid di dalam sekolah ini.

Sesungguhnya jiwa dan hati manusia banyak terjangkit dengan penyakit-peyakit hati, diantaranya sombong, menipu, egois, pelit, marah, riya’, menyukai maksiat, membenci, dengki, dendam, tama’, dan lain-lain. Allah berfirman, wa maa ubarri’u nafsii,innafsa la ammarotun bissuui illa maa rokhima robbi. Inna robbi gofuurur rokhiim (Yusuf: 53), artinya: “dan aku tidak menyatakan diri bebas dari kesalahan, karena sesunggunya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. Sesungguhnya kaum muslimin pada masa-masa awal sangat memahami pentingnya pendidikan jiwa dan hati dan menyucikanya dari segala penyakit-penyakit hati, agar ia dapat berjalan cepat agar sampai kepada Allah ta’ala.

Thoriqoh shufiyyah yang dibenarkan di dalam agama Islam harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut,

  1. Berpegang kepada al-Qur’an dan al-Hadits. Setiap hal yang bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits tidak dinamakan Thoriqoh. Thoriqoh sangat menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan al-Kitab dan as-Sunah.
  2. Ilmu dan pengajaran Thoriqoh tidak terlepas dari ilmu syareat. Justru sebaliknya thoriqoh adalah inti syareat.

Adapun ciri-ciri thoriqoh yang benar adalah,

  1. Memperhatikan dan mengawasi hati dan mensucikan jiwa dari segala penyakit-penyakitnya. Allah berfirman, wa nafsiw wamaa sawwaha, fa alhamaha fujuurohaa wa taqwaaha, qod aflaha man zakkaha wa qod khooba man dassaaha (as-Syamsy: 7-11), artinya: “demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya!,  Dia telah mengilhamkan kepada jiwa jalan kejahatan dan jalan ketaqwaannya. Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya”.
  2. Banyak berdzikir kepada Allah ta’ala. Allah berfirman, yaa ayyuhalladziina aamnudzkurulllaha dzikron katsiiraa (al-Ahzab: 41), artinya: “wahai orang-orang yang beriman!, berdzikirlah kalian semua kepada Allah ta’ala dengan dzikir yang banyak”. Nabi bersabda, laa yazaalu lisaanuka rothban min dzikrillahi (hendaknya lisanmu itu menjadi basah karena berdzikir mengingat Allah).
  3. Zuhud dari dunia, tidak bergantung kepadanya, dan mencintai akherat. Allah berfirman, wa mal khayaatutdunya illa la’ibun wa lahwun. Wa laddarul aakhirotu khoirullildziina yattaquun, afalaa ta’qiluun (al-An’am: 32), artinya: “dunia ini hanyalah permainan dan sandiwara. Dan sesungguhnya kehiduan akherat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Apakah engkau tidak berfikir?”.

Di dalam thoriqoh ada seorang syekh (guru) yang akan mengajari para murid dengan berbagai macam dzikir dan menjelaskan kepada mereka bagaimana cara mensucikan jiwa dari segala macam penyakit-penyakitnya, dan mengobati mereka dengan obat-obat hati. Seorang Syekh diberi keistimewaan oleh Allah mampu melihat penyakit-penyakit yang menjangkit hati para murid, lalu beliau akan memberikan obat yang sesuai untuk murid-muridnya. Obat hati yang diberikan oleh syekh kepada setiap murid berbeda-beda, menurut kondisi dan keadaan si murid.

Sesungguhnya nabi Muhamad SAW memiliki nasehat yang berbeda kepada orang yang berbeda, karena beliau mengetahui nasehat apa yang sesuai dengan kondisi hati dan jiwa masing-masing orang. Pada suatu hari datang seorang laki-laki kepada Rasulullah, “wahai nabi!, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang dapat menjauhkanku dari marah Allah”. Nabi menjawab, “jangan marah!”. Kemudian datang orang lain yang bertanya kepada nabi Muhammad SAW, dan beliau berkata kepada orang itu, “hendaknya lisanmu itu menjadi basah karena selalu mengingat Allah ta’ala!”. Karena kondisi jiwa yang berbeda, setiap orang memiliki kecenderungan yang berbeda untuk melakukan ibadah yang disukainya. Diantara sahabat nabi ada yang gemar bangun malam, ada yang menyukai membaca al-Qur’an, ada yang memilih berjihad di jalan Allah, ada yang senang berdzikir, dan ada pula yang gemar memberikan sodaqoh.

Hal Ini bukan berarti melakukan ibadah yang satu, lalu meninggalkan ibadah yang lain. Akan tetapi ada ibadah tertentu yang ditekuni oleh seorang yang menjadikan jalan baginya untuk berjalan menuju Alah ta’ala. Oleh karena itu jumlah pintu surga itu bermacam-macam. Nabi Muhammad SAW bersabda, “orang yang menekuni suatu amal ibadah memiliki satu pintu dari pintu-pintu surga. Mereka akan berdo’a dan memohon dengan amal itu”. Dan orang yang suka berpuasa memiliki suatu pintu yang dinamakan dengan pintu royyan (HR Bukhori, Muslim). Seperti halnya dengan madrasah thoriqoh, para murid menekuni suatu amalan yang ia sukai. Ada yang suka memperbanyak membaca al-Qur’an, ada yang senang berpuasa, shodaqoh, dan lain sebagainya.

Dari keterangan di atas sekarang kita sudah memahami apa itu thoriqoh yang benar. Di dalam thoriqoh ada seorang syekh dan para murid yang mentaati aturan syareat yang semuanya berpegang kepada al-Kitab dan as-Sunnah. Dan sekarang kita juga sudah mengerti mengenai sebab yang menyebabkan munculnya banyak thoriqoh, yaitu karena perbedaan cara dan metode penyembuhan hati. Akan tetapi meskipun banyak jalan yang berbeda-beda tetapi semuanya mengantarkan kepada tujuan yang sama yaitu Allah ‘azza wa jalla.

Kami juga tidak lupa untuk mengingatkan adanya kelompok yang mengaku-aku sebagai orang yang paling memahami tashawwuf dan menyebut dirinya sebagai orang sufi. Padahal sebenarnya mereka itu orang yang tidak memiliki agama. Mereka adalah orang yang biasa menari dan melenggak-lenggok di dalam peringatan maulud nabi. Mereka gemar melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari jalan lurus. Mereka itu bukanlah orang sufi dan tidak masuk dalam wilayah at-Thuruq as-Shufiyyah (jalannya orang sufi). Thoriqoh sufhiyyah adalah jalan yang mengantarkan seseorang untuk sampai kepada kedekatan kepada Alah ta’ala. Jalan ini sangat berpegang teguh kepada ajaran al-Qur’an dan al-Hadits.

Disamping itu kami juga tidak lupa mengingatkan sekelompok orang yang dengan sombongnya mengatakan bahwa mengapa kita tidak mempelajari cara beradab dan berakhlak yang baik atau cara mensucikan jiwa secara langsung dari sumbernya, al-Qur’an dan al-Hadits. Ini adalah sebuah perkataan yang secara dzohir ini nampak benar, tetapi sebenarnya salah. Sesungguhnya kita tidak mungkin dapat mengetahui rukun-rukun dan sunnah-sunnah shalat secara langsung mengambil dari al-Qur’an dan al-Hadits. Akan tetapi kita mempelajarinya dari ilmu yang diciptakan oleh para ulama yang dinamakan dengan ilmu fiqih. Di dalam ilmu fiqih kita akan menemukan rukun-rukun shalat, sunnah-sunnah shalat, dan hukum-hukum permasalahan yang diambil dan disarikan dari al-Qur’an dan al-Hadits. Tidak ada seorang alimpun pada masa ini yang dapat mengambil hukum secara langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits.

Ada hal-hal yang tidak disebutkan di dalam al-Qur’an dan al-hadits, oleh sebab itu kita harus belajar kepada seorang syekh dengan cara mendengarkan nasehat dan petuah-petuahnya. Karena tidak mungkin kita bisa mempelajari ilmu tajwid secara langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits. Ada istilah-istilah di dalam ilmu tajwid yang hanya bisa kita dapatkan dari seorang guru dan syekh. Seperti contohnya, mad lazim itu panjangnya enam harokat. Kita akan bertanya siapa yang menamakan mad itu dengan mad lazim, lalu mana dalilnya?, seorang ulama yang ahli dalam ilmu tajwidlah yang akan menjawab dan menjelaskan ini semua. Begitu juga dengan ilmu tashawuf, ilmu tashawuf adalah ilmu yang diciptakan pada zaman Imam  Junaid al-Baghdadi, yaitu sejak abad ke 4 hijriyah dan masih ada sampai zaman sekarang.

Ketika zaman telah rusak dan akhlak yang buruk telah menyebar, maka rusaklah sebagian thoriqoh shufiyah. Banyak orang yang mengira bahwa inilah thoriqoh shufiyyah. Akan tetapi Allah akan terus menjaga tasawwuf yang benar dan para ahlinya serta akan melindungi mereka dengan perlindungan-Nya. Allah berfirman, innallaha sayudafi’u ‘anilladziina aaamanuu. Innallaha la yuhibbu kulla khowwanin kafuur (al-hajj: 38), artinya: “sesunggunya Allah akan melindungi orang-orang yang beriman. Dan sesunggunya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat dan orang yang kufur nikmat”.

Inilah penjelasan singkat mengenai tashawuf, thoriqoh, syekh, dan sebab munculnya banyak thoriqoh. Dan sekarang, kita sudah memahami mengapa kita harus mempelajari akhlaq dan cara membersihkan jiwa dari ilmu tasawwuf, dan kita tidak mempelajarinya secara langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits. Mari kita memohon kepada Allah ta’ala agar menunjukkan kepada kita pemahaman yang benar mengenai tashawuf dan thoriqoh. Wallahu ta’al a’la wa a’la
( al-bayan, Syekh Ali Jum’ah, mantan Mufti Mesir)

 

 

KAROMAH

Benarkah adanya karomah (hal yang luar biasa) yang terjadi pada orang-orang yang soleh di masa hidup mereka, dan apakah karomah ini akan tetap ada setelah wafatnya?. Karomah adalah perkara yang terjadi di luar kebiasaan manusia, yang tidak dibarengi dengan pengakuannya sebagai nabi, atau pendahuluan sebelum menjadi nabi. Karomah adalah sesuatu yang menakjubkan yang Allah tampakkan pada hamba-hambanya yang soleh, yang senantiasa selalu melaksanakan syareat Islam dan beristiqomah mengikuti sunah nabi Muhammad SAW.

Para ulama mensyaratkan bahwa karomah harus terjadi pada orang yang mentaati aturan syareat Islam dan mengikuti sunah nabi Muhammad SAW. Syarat ini berfungsi untuk menolak pengakuan orang yang memiliki kelebihan, akan tetapi ia tidak melaksanakan syareat agama dan tidak mentaati perintah Allah dan rasul-Nya.

Beriman kepada karomah para wali dan kekasih Allah termasuk dasar aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Imam at-Thohawi berkata, “kami beriman kepada karomah-karomah para wali Allah yang diriwayatkan dengan sanad orang-orang yang terpercaya (al-aqidah at-thokhawiyah).

Sesunggunya mengingkari adanya karomah wali dapat mengeluarkan seorang muslim dari agama Islam. Karena percaya pada karomah wali termasuk prinsip aqidah islam. Pelaku karomah pada hakekatnya adalah Allah ta’ala, dan Dia ingin menampakannya pada diri hamba-hamba-Nya yang taat dan patuh kepada syareat-Nya sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasan-Nya.

Imam al-Jalal al-Makhalli mengatakan bahwa karomah dapat terjadi pada diri orang-orang yang soleh, yang mentaati peritah Allah ta’ala dan yang menjauhi perbuatan maksiat. Orang soleh ini senantiasa menolak menceburkan dirinya di dalam godaan syahwat, sehingga dengan kesalehan ini ia mendapatkan karomah. Diantara contoh karomah yang pernah terjadi adalah mengalirnya sunggai nil dengan sebab surat dari sayyidina Umar rodliyallahu ‘anh. Contoh lainnya Umar dapat melihat penglima perangnya yang sedang berperang di Nahawan, bahkan Umar dapat berkata kepada panglima tadi yang benama Sariyah, dan Sariah dapat mendengar suara Umar. Umar berkata kepada Sariyah, “wahai Sariah! gunung! gunung!”, yang bermaksud memberitahunya bahwa ada musuh di balik gunung. Contoh lainnya adalah sahabat Kholid bin Walid yang berani meminum segelas racun yang mematikan, tetapi anehnya racun ini sama sekali tidak memiliki efek sedikitpun pada tubuh Kholid. Dan masih banyak hal-hal menakjubkan lainnya terjadi pada diri para sahabat rodliyallahu ‘anhum (syarkh jalaluddin al-makhalli li jam’il jawami’).

Ibnu Taimiyyah berkata, “ada orang-orang solah yang dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang di luar kebiasaan manusia, karena sebab keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah ta’ala. Hal itu dinamakan karomah (al-fatawa al-kubro).

Para ulama mengatakan bahwa yang termasuk karomah para wali adalah kemampuan mereka untuk melihat sesuatu yang ghaib. Mengenai masalah ini Ibnu ‘Abidin mengatakan, “termasuk salah satu bentuk karomah para wali adalah kemampuan mereka melihat dan mengetahui hal-hal ghaib. Para ulama sangat menolak madzhab muktazilah yang menolak adanya karomah karena bersandar dengan ayat ‘alimulghoibi fa laa yudhhiru ‘ala ghobihi ahadan, illamanir tadlo min rusul (al-Jin: 26-27), artinya: “Allah adalah Dzat yang mengetahui hal-hal yang ghaib, dan Dia tidak akan menampakkan hal ghaib itu kepada seorangpun kecuali rasul yang ia ridloi”. Para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan rasul pada ayat ini adalah malaikat. Jadi maknanya, Allah tidak akan menampakkah hal yang ghaib kepada seorang pun dengan tanpa perantara, kecuali malaikat. Adapun nabi-nabi dan wali-wali Allah terkadang ditampakkan atas mereka hal-hal ghaib, tetapi dengan perantara malaikat (khasyiyah Ibnu ‘Abidin).

Karomah-karomah orang-orang yang soleh banyak terjadi pada saat mereka masih hidup. Dan tidak ada dalil yang menunjukkan berakhirnya karomah setelah mereka wafat. Justru yang ada adalah dalil yang menunjukkan sebaliknya. Bahwasanya karomah para wali dan kekasih Allah itu masih tetap ada setelah wafatnya. Telah diriwayatkan, bahwa Allah menjaga jasadnya ‘Ashim bin Tsabit setelah wafatnya, kemudian Allah membangkitkan jasad ‘Ashim dan ia melindungi kaum muslimin dari serangan musuh (HR Bukhori, Ibnu-Habban, Al-Hakim).

Imam al Bujairimi mengatakan, “ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya, “apabila ada mayit yang membaca surat sajdah (sebagai karomahnya), apakah orang yang mendengarnya disyareatkan untuk bersujud?’”. Sang guru menjawab, “iya disunnahkan untuk bersujud, sebab karomah para wali Allah itu tidak hilang karena sebab wafatnya. Dan mungkin bisa terjadi bagi mayit untuk membaca al-Qur’an sebagai bentuk karomah yang diberikan Allah kepadanya, karena mayit itu tidak sama dengan benda mati (khasyiyatul bujairimi).

Dari penjelasan singkat di atas dapat kita simpulkan bahwa beriman kepada karomah para wali dan kekasih Allah termasuk permasalahan aqidah yang sudah disepakati oleh para ulama. Barang siapa yang mengingkari karomah maka aqidahnya masih dipertanyakan, dan perbuatannya bisa mengeluarkan dirinya dari agama Islam, na’udlubillahi min dzaalik. Seorang muslim yang baik hendaknya tidak mengingkari karomah hamba-hamba Allah yang soleh di masa hidupnya maupun setelah meninggalnya. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam. (terjemah kitab al-bayan).

 

MEMBACA AL-QUR’AN UNTUK SI MAYIT

Apakah hukum membaca al-Qur’an untuk si mayit di atas kuburannya, dan apakah pahalanya akan sampai kepada si mayit? Para ulama telah bersepakat bahwa membaca al-Qur’an di atas kuburan tidak haram dan pelakunya tidak mendapatkan dosa. Sebagian besar ulama dari madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali mengatakan kesunahannya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas, ia berkata, nabi bersabda, “barang siapa yang memasuki kuburan kemudian membaca surat Yasin maka si mayit akan mendapatkan keringanan di dalam kuburnya dan ia akan mendapatkan kebaikan dengannya” (al-mughni). Diriwayatkan bahwa sahabat Ibnu Umar rodliyallahu ‘anhuma berwasiat agar ketika ia dikuburkan dibacakan untuknya awal dari surat al-Baqoroh dan akhir surat al-Baqoroh (al-mughni, tukhfatul akhwadz).

Adapun ulama yang bermadzhab Maliki mengatakan makruhnya membaca al-Qur’an di atas kuburan. Akan tetapi syekh Dardiri mengatakan, “sebagian ulama madzhab Maliki berpendapat bahawa boleh untuk membaca al-Qur’an di atas kuburan, berdzikir, dan mengirimkan pahalanya untuk si mayit. Dan orang yang membacanya juga akan mendapatkan pahalanya insyaAllah (as-syarkhul kabiir).

Sesungguhnya madzhab yang mensunahkan membaca al-Qur’an adalah yang paling kuat. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa masalah ini seakan-akan telah menjadi ijma’. Adapun ulama yang mengatakan bahwa masalah ini sudah menjadi ijma’ adalah Ibnu Qudamah al-Muqodasi al-Hambali. Beliau mengatakan bahwa jika ada suatu negeri yang penduduknya melakukan hal ini dan megirimkan pahalanya untuk si mayit muslim maka pahala itu akan sampai insyaAllah.

Banyak ulama mengatakan bahwa apabila seorang mayit dibacakan al-Qur’an dan pahalanya dihadiahkan untuknya maka yang membaca al-Qur’an juga akan mendapatkan pahala. Jadi seolah-olah si mayit itu hadir di hadapannya, kemudian si mayit mendo’akan bagi si pembaca al-Qur’an agar ia mendapatkan rahmat. Hal ini sudah menjadi ijma’ seluruh kaum muslimin. Semua muslim dimanapun dan kapan pun telah melakukan amalan ini. Mereka menghadiahkan pahala bacaan al-Qur’an untuk si mayit dan tidak ada seorang ulamapun yang mengingkarinya (al-mughni).

Ulama lain mengatakan bahwa masalah ini sudah menjadi ijma’ adalah Syekh al-Utsmani. Beliau mengatakan bahwa kaum muslimin telah bersepakat untuk beristghfar, berdo’a, bersodaqoh, dan berhaji, dan memberikakan pahala dan manfaatnya untuk si mayit. Dan membaca al-Qur’an di kuburan itu termasuk perbuatan sunnah.

Para ulama berpendapat akan sampainya pahala bacaan al-Qur’an untuk si mayit. Mereka juga mengatakan sampainya pahala haji untuk si mayit, karena haji itu mencakup shalat, dan di dalam shalat ada bacaan fatehah dan lainnya. Apabila semuanya bisa sampai, maka yang sebagian juga akan sampai. Pahala bacaan al-Qur’an akan sampai kepada si mayit dengan izin Allah ta’ala apabila pembaca berniat untuk memberikan pahala bacaan itu kepada si mayit.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ulama telah menyatakan bahwa pahala bacaan al-Qur’an itu akan sampai, dan sedikit ulama yang berbeda pendapat dengan mayoritas ulama. Oleh karena itu hendaknya kita tidak berselisih di dalam masalah ini. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam. (al-bayan Prof Ali Jum’ah)

NABI MUHAMMAD ADALAH CAHAYA

Apakah nabi Muhammad itu cahaya, ataukah dia manusia seperti kita? Nabi Muhammad adalah cahaya. Allah berfirman, yaa ahlal kitaab qod jaa akum rasuulunaa yubayyinu lakum katsiiron mimma kuntum takhfuuna minal kitaabi wa ya’fuu ‘an katsiir. Qod jaa akum minallahi nuurun wa kitaabum mubiin (al-Maidah: 15), artinya: “wahai ahlul kitab! sungguh Rasul Kami telah datang kepadamu dan menjelaskan kepadamu banyak hal dari isi kitab yang kamu sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sungguh telah datang kapadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menjelaskan”.

Allah berfirman, wa daa’iyaan ilallah biidznihii wa siroojan muniiroo (al-Ahzab: 46), artinya: “Muhammad adalah pendakwah yang mengajak manusia menuju Allah dengan izin-Nya, dan dia adalah lampu yang bersinar”. Nabi Muhammad SAW adalah cahaya yang nyata. Boleh hukumnya kita mengatakan bahwa Muhammad adalah cahaya, sebab Allah sendiri juga mengatakannya. Diriwayatkan bahwa para sahabat mengatakan, inna wajhahu kal qomar  (HR Nasa’i, Thobroni), artinya: “sesungguhnya wajah nabi bagaikan rembulan”. Diriwayatkan bahwa ketika nabi Muhammad masuk ke Madinah, segala sesuatu yang berada di dekatnya menjadi bercahaya, dan ketika beliau wafat semuanya menjadi gelap (HR Ahmad, at-Turmudzi). Dan masih banyak riwayat lainnya yang mengatakan bahwa nabi Muhammad adalah cahaya.

Muhammad adalah manusia. Allah berfirman, qul innama ana basyarun mitslukum yuukhaa ilayya (al-Kahfi: 110, fusshilat: 6), artinya: “katakanlah wahai Muhammad! aku adalah manusia seperti kalian, tetapi aku mendapatkan wahyu dari Allah”. Sudah sepantasnya kita mengimani apa yang sudah ditetapkan oleh Allah atas nabi-Nya. Dia  adalah manusia, dan dia adalah cahaya yang bersinar.

Adapun meyakini bahwa beliau adalah cahaya secara indrawi tidaklah bertentangan dengan unsur kemanusiaan nabi Muhammad. Bentuk bulan itu hakekatnya seperti padang pasir, akan tetapi ia bercahaya, dan cahayanya dapat ditangkap dengan panca indra. Sedangkan nabi Muhammad SAW lebih baik dari pada bulan, bahkan lebih utama dari semua makhluk yang ada. Mari kita memohon kepada Allah ta’ala agar senantiasa menunjukkan kepada kita jalan yang lurus. Wal hamdulillahi robbil ‘aalamiin. (terjemah kitab al-bayan Prof Ali Jum’ah)

 

 

Bagaimana kita menyikapi perbedan pendapat dalam masalah fiqih?

Terbitnya buku-buku yang bertujuan untuk mengajak pembacanya kepada madzhab pengarangnya dan menyebut orang yang berbeda pendapat dengannya dengan sebutan ahli bid’ah, fasiq, dan sesat dapat menimbulkan bahaya dan kekhawatiran. Hal ini dapat menimbulkan perpecahan umat Islam.

Sesungguhnya setiap orang bebas mempertahankan madzhabnya, menjelaskan dan memaparkan semua dalil dan segala hal yang menguatkan pendapatnya. Akan tetapi tidak dibenarkan apabila ia menuduh orang yang bertentangan dengan madzhabnya dengan sebutan ahli bid’ah, sesat, dan fasiq, apalagi permasalahan ini sudah dibahas dan diteliti oleh para ulama. Meski berbeda pendapat, sesungguhnya para ulama tidak saling menjelekkan satu sama lain, apalagi menganggap pendapatnya paling benar. Sesungguhnya perbuatan menyerukan kepada orang-orang bahwa pendapatnya dan hanya madzhabnya yang paling benar dapat menyebabkan perpecahan umat Islam.

Sesungguhnya permasalahan yang prinsip di dalam agama Islam telah disepakati oleh para ulama dahulu dan ulama zaman sekarang. Dan selain itu adalah permasalahan ijtihadiyyah (hasil ijtihad para ulama), yang mana setiap orang boleh mengikuti madzhab yang disukainya selama madzhab itu adalah madzhab ulama yang soleh dan memegang teguh syareat Islam, serta mengikuti petunjuk dan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Perselisihan masalah-masalah ijtihadiyyah sudah terjadi sejak zaman sahabat rodliyallahu ‘anhum. Imam Al-Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq mengatakan, “Allah telah memberikan kebaikan kepada kita dengan adanya perbedaan pendapat para sahabat nabi dalam masalah-masalah ijtihadiyyah. Karena dengan begitu kita bisa lebih bebas memilih amalan dan pendapat yang kita sukai”.

Imam Sufyan ats-Tsaruri mengatakan, “apabila engkau melakukan suatu amalan yang diperselisihkan oleh para ulama dan engkau melihat amalan seseorang yang tidak sama denganmu, maka janganlah engkau melarangnya” (khilyatul auliyaa). Imam Ahmad bin Hambal berkata, “hendaknya seorang faqih tidak memaksakan manusia untuk mengikuti madzhabnya” (al-adaab as-syar’iyyah).

Imam madzhab Hambali, Ibnu Qudamah al-Muqoddasi mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan para ulama, yang mana mereka semua adalah orang-orang yang paling bisa memahami kaidah-kaidah agama. Mereka adalah orang yang bisa menjelaskan permasalahan-permasalahan hukum. Kesepakatan mereka mengenai suatu hal adalah dalil buat kita. Dan perbedaan meereka mengenai hukum suatu hal adalah rahmat” (al-mughni). Dikisahkan ada seseorang yang mengarang sebuah kitab dalam masalah perbedaan pendapat ulama seputar ilmu fiqih. Imam Ahmad lantas berkata padanya “janganlah engkau menamakan kitabmu ini dengan ikhtilaaf (perbedaan), tapi namakan kitab ini dengan kitaabus si’a’ah (kitab yang menjelaskan tentang luas dan tolerannya hukum Islam).

Meskipun seseorang telah yakin dengan kebenaran madzhab dan pendapatnya serta meyakini kesalahan pendapat orang yang berbeda dengannya, ia tidak boleh mengatakan orang lain sebagai ahli bid’ah atau ahli fasiq. Imam al-Khafidz adz-Dzahabi mengatakan “apabila ada seorang mujtahid yang salah di dalam ijtihadnya kita tidak boleh menjulukinya sebagai ahli bid’ah, fasiq, dan sesat. Sebab kesalahan seperti itu adalah kesalahan yang dimaafkan oleh Allah ta’ala. Sesunggunya para ulama dan para mujtahid adalah orang-orang yang memiliki derajat dan kedudukan yang mulia di sisi Allah. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengajak manusia menuju Allah ta’ala (siyar a’laam an-nubalaa’). Ibnu Taymiyah mengatakan “apabila kami berpegang pada suatu pendapat di dalam masalah yang diperselisihkan, kami tidak menyalahkan dan menjelekkan pendapat ulama lainnya” (al-adab as-syar’iyah, Ibnu Muflih).

Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa perbedaan pendapat diantara para ulama adalah rahmat di dalam agama Islam, dengan ketentuan ulama yang kita ikuti harus memenuhi syarat yang diperlukan untuk melakukan ijtihad dan mengambil hukum dari dalil al-Qur’an dan al-Hadits. Adapun ajakan seseorang untuk mengikuti pendapatnya dengan mengatakan bahwa pendapatnya yang paling benar dan pendapat yang lainnya itu salah dan menganggap orang yang berbeda pendapat dengannya sebagai ahli bid’ah, fasiq dan sesat adalah salah. Dan hal ini dapat menimbulkan perpecahan dan mengakibatkan permusuhan diantara umat Islam. Semoga Allah membuka pemahaman kita semua amiin ya robbal ‘alamiin. Wallahu ta’ala a’la wa’lam. (al-bayan Prof Ali Jum’ah)

Mengenal Tuhan

Apakah makna dari ungkapan ‘barang siapa yang mengenal dan mengetahui Tuhannya, maka ia tidak akan sibuk dengan yang lain’ ?

Makna dari ungkapan ‘siapa yang mengenal Tuhannya maka ia tidak akan sibuk dengan sesuatu yang lain’, adalah barang siapa yang sudah mengatahui dan merasakan keagungan, kekuasaan, dan kesempurnaan Allah, maka ia tidak mungkin menemukan manusia atau makhluk lain yang dapat menyibukkan hati dan pikirannya dari melihat kebesaran Allah ta’ala.

Orang yang sudah mengetahui Tuhannya akan selalu sibuk dengan Allah ta’ala. Apabila bersama dengan selain Allah ia tidak merasakan kenyamanan. Sehingga setelah ia bersama dengan selain Allah, ia akan cepat-cepat kembali kepada Allah. Karena ia hanya menemukan kenikmatan ketika bersama dengan Allah ta’ala. Inilah kenikmatan hakiki yang dirasakan oleh kebanyakan orang-orang soleh,

Kenikmatan ini diperoleh dengan cara melakukan banyak berdzikir dan berusaha untuk senantiasa mengingat Allah ta’ala. Barang siapa yang merasakannya maka ia akan mengetahui. Dan barang siapa yang mengetahui maka ia akan menggayung (baca: mengambil manfaat). Barang siapa yang merasakan manisnya bersama dengan Allah, ia tidak merasakan kenikmatan bersama dengan selain Allah. Barang siapa yang terus menerus dan membiasakan diri dengan berdzikir kepada Allah, maka ia akan mendapatkan rasa cinta kepada Allah ta’ala. Meskipun badannya bersama dengan yang lain, tetapi hatinya senantiasa bersama dengan Allah ta’ala. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

 

HUDUD

Bagaimanakah cara menerapkan hudud (hukuman) di dalam syareat Islam pada zaman ini, dan bagaimana hubungannya dengan peraturan hukum yang sudah diterapkan di beberapa negara?.

Permasalahan mengenai penerapan syareat Islam harus kita fahami secara luas. Hendaknya kita tidak boleh memahaminya sebatas pada penerapan hudud (hukuman-hukuman) saja. sesungguhnya metode penerapan syariat Islam antara tempat satu dengan tempat yang lain berbeda-beda. Setiap tempat memiliki ciri-ciri khas yang membedakanya dengan tempat lainnya. Tidak adil rasanya apabila hanya karena metode penerapan yang berbeda, kita lantas mengatakan bahwa hukum / peraturan yang diterapkan oleh negara tertentu tidak sesuai dengan syareat Islam.

Hukum dan peraturan yang telah dijalankan oleh suatu negara telah ditetapkan dan berlangsung lama. Setiap negara memiliki hukum yang berbeda dengan hukum di negara lain, begitu pula dengan hukum dan peraturan yang berlaku di negara-negara Islam. Apabila kita membuka kembali kitab-kitab agama Islam maka kita tidak akan menemukan seorang ulama pun yang mengatakan bahwa negara-negara ini telah keluar dari bangunan Islam, atau mengatakan bahwa negara ini tidak menerapkan syareat. sesungguhnya kalimat ‘penerapan syareat Islam’ adalah kalimat baru yang dimunculkan oleh orang-orang di zaman ini.

Hal-hal yang perlu diketahui,

  1. Syareat / hukum bermakan segala hal yang berhubungan dengan aqidah dan pandangan yang menyeluruh yang menyatakan bahwa alam semesta ini adalah makhluk. Sesungguhnya alam raya ini diciptakan oleh Dzat yang maha pencipta. Syareat juga memiliki makna, memahami bahwa setiap manusia mendapatkan taklif  (pembebanan) dan tugas dari Allah untuk memahami dan mempelajari hukum-hukum syareat yang mensifati perbuatan-perbuatannya.Taklif Allah itu dapat dimengerti oleh manusia melalui perantara wahyu. Allah SWT telah mengutus para rasul untuk membawa wahyu itu dan menyampaikannya kepada umat manusia. Allah SWT telah menurunkan al-Qur’an yang mengandung syareat. Dan Syareat ini mencakup keyakinan-keyakinan, diantaranya pada suatu saat akan datang hari perhitungan amal, hari mendapatkan pahala, dan hari mendapatkan siksa.Disamping itu, syareat Islam juga mengandung fiqih yang mengatur tingkah laku manusia sebagai makhluk individu dan sosial. Dan yang paling penting dalam syareat Islam adalah ajaran mengenai akhlak, cara-cara beradab dan bersopan santun kepada Allah, Rasulullah, dan alam sekitar.
  2. Huduud (hukuman) atas perbuatan kriminal mencakup dua hal penting, yaitu yang pertama meyakini bahwa hukuman ini dimaksudkan untuk memberantas segala macam tindakan kejahatan dan dosa besar, dan menekankan akan besarnya dosa yang akan ditanggung oleh para pelakunya. pelaksanaan hudud hendaknya mengamati dengan cermat sejauh mana efek negatif yang akan ditimbulkan. Hukum ini tidak boleh mendzolimi siapapun, tidak mengandung unsur penyiksaan, dan unsur kekejaman. Adapun yang kedua, bahwa syareat Islam meletakkan beberapa syarat dan ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi sebelum pelaksanaan hudud. Agama Islam telah menggambarkan sifat-sifat dan kondisi-kondisi yang harus ada apabila sebuah negara ingin menerapkan dan melaksanakan hukuman itu. dan jika syarat, kondisi, dan sifat-sifat yang ditetapkan tidak terpenuhi, maka hudud tidak bisa terlaksana.
  3. Orang yang membaca dan merenungi ayat-ayat al-Qur’an akan menemukan bahwa syareat tidak menjadikan hukuman-hukuman itu sebagai tujuan balas dendam dan menyiksa, akan tetapi berfungsi untuk mencegah terjadinya kejahatan. Dan hudud tidak boleh dilaksanakan apabila pihak korban bersedia dan mau memafkan si pelaku. Banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan masalah ini.
  4. Dalam kurun waktu kira-kira 1000 tahun, negara Mesir tidak melaksanakan praktek huduud. Hal itu dikarenakan tidak terpenuhinya syarat-syarat yang bersifat syar’i yang membolehkan pelaksanaan hukum ini. sesungguhnya agama islam membolehkan pembatalan hukum. Hal ini ddasarkan pada hadits nabi, idro’uu al-huduuda bis syubhaat (hadits ini disebutkan di kitab mukhtasor almaqoosid dan di kitab talkhiisul khoobiir), artinya: “tinggalkanlah hukuman-hukuman karena adanya syubhat (ketidakjelasan)”. Hadits lain menyebutkan, idroul huduuda ‘anil muslimiina mastatho’tum, fa in kaa na lahu makhroj fa khollu sabiilahu. Fa innal imam an yukhti’a fil ‘afwi khourun min an yukhtia fil ‘uquubati (HR Tirmidzi, al-Baihaqi, al-Hakim), artinya: “tinggalkanlah hukuman-hukuman itu dari kaum muslimin sebisa mungkin. Apabila ia memiliki cara lain maka pakailah cara itu. Seorang hakim yang salah dalam memutuskan sebuah perkara dengan memberi maaf, lebih baik dari pada yang salah dalam memutuskan suatu perkara dengan memberikan hukuman”.
  5. Zaman sekarang ini memiliki beberapa sebutan istilah. Diantaranya zaman darurat, zaman syubhat, zaman fitnah, zaman kebodohan dan lain lain. Sifat-sifat zaman ini tentu saja berpengaruh pada pelaksanaan hukum syareat. Para ulama mengatakan, addzoruurotu tubiikhul makhdzuur (keadaan darurat membolehkan hal yang sebelumnya dilarang), meskipun sifat darurat ini telah metetap dan dilakukan secara terus menerus. Oleh karena itu para ulama membolehkan seorang muslim dikuburkan di pemakaman orang kafir. Padahal kebolehan ini menyalahi syareat. Sesungguhnya syubhat dapat mengakibatkan batalnya pelaksanaan hukuman. Hal ini Sebagaimana yang telah dilakukan oleh sahabat Umar bin khotob pada ‘aamur rumadah (tahun kelabu). Selain itu Imam Ja’far Sodiq, Imam al-Karkhi al-Hanafi dan teman-temannya juga pernah berpendapat untuk menggugurkan keharaman melihat wanita-wanita telanjang di suatu daerah tertentu, karena hampir semua perempuan di daerah itu tidak memakai hijab. Sehingga kewajiban godzdzul basor (menghindari pandangan) sulit dilakukan. Terkait dengan penjelasan di atas, salah seorang ulama besar, Imam ar- Rozi memiliki sebuah istilah yang dinamakan dengan an-naskhul ‘aqli. An-naskhul ‘aqli adalah hilangnya tempat pelaksanaan hukuman. Maksudnya bahwa suatu hukuman tidak mungkin bisa terlaksana apabila tempatnya sudah hilang. Misalnya perintah untuk melakukan wudhu. Salah satu anggota tubuh yang harus dibasuh ketika wudhu adalah tangan. Apabila seseorang tidak memiliki tangan, maka pelaksanaan kewajiban ini tidak mungkin bisa dilaksanakan. Begitu juga dengan hukum-hukum yang lain seperti hukum perbudakan, hukum-hukum yang berkaitan dengan khilafah Islamiyah, hukum-hukum yang berkaitan dengan transaksi jual beli menggunakan mata uang emas dan perak, dan masih  banyak lagi.
  6. Untuk sampai pada tujuan penerapan hukum syareat yang hakiki dan dapat melaksanakan apa yang menjadi keinginan Allah SWT, kita harus bisa memahami dengan cermat atas keadaan dan peristiwa yang terjadi di suatu tempat.  Di dalam kitab sya’bul imaan, Wahb bin Manbah mengatakan bahwa seorang yang pandai harus bisa memahami keadaan dan kondisi di zaman dia hidup, mengetahui bahasanya, dan mengetahu informasi dan kabar-kabar terkini (riwayat al-Baihaqi)

Para ulama ahli fiqih mengatakan bahwa hukum-hukum syareat dapat berubah sesuai dengan perubahan waktu (diambil dari majallatul akhkaam al-’adaliyah). Ulama madzhab Hanafi berpendapat mengenai bolehnya hukum praktek akad yang rusak di negara-negara non Islam. Sesungguhnya hukum di dalam Islam dapat berubah dengan berubahnya tempat. Ada sebuah kaidah usul fiqih yang berbunyi, adzdloruurotu tubiikhul makhdzuroot (keadaan darurat itu dapat membolehkan sesuatu yang sebelumnya dilarang). Kaidah ini disarikan dari firman Allah, fa manidzturro ghoira baaghiiw wallaaa ‘adin falaa itsma ‘alaih, innallaha ghofuuruurrokhiim (al-Baqoroh: 173), artinya: “barang siapa yang terpaksa melakukan keharaman bukan atas dasar keinginan nafsu dan tidak melampaui batas maka sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang”.

Hukum juga dapat berubah dengan berubahnya orang. Kejahatan yang dilakukan oleh orang normal memiliki hukuman yang berbeda dengan hukuman bagi orang yang tidak normal. Sesungguhnya ada empat hal yang menjadikan hukum bisa berubah, yaitu waktu, tempat, orang, dan keadaan. Imam al-Qorofi mengatakan bahwa keempat hal ini harus kita perhatikan dengan benar ketika hendak menetapkan suatu hukum atas kejadian tertentu.

Negara-negara Islam yang jumlahnya sekitar 56 negara memiliki aturan hukuman yang berbeda dengan hukuman-hukuman yang ditetapkan oleh syareat agama Islam, seperti potong tangan, rajam, dan qishos. Hal ini bisa terjadi karena kaum muslimin memandang bahwa zaman sekarang ini adalah zaman syubhat. Nabi Muhammad SAW bersabda, idrouu alhuduuda bis syubhaat (tinggalkanlah hukuman karena adanya syubhat).

Adapun adanya upaya-upaya yang dilakukan oleh sekelompok orang agar huduud bisa dilaksanakan, sesungguhnya bukanlah jalan yang terbaik. Bahkan nabi sendiri sangat berhati-hati untuk melakukan hukuman itu. Nabi Muhammad SAW ketika mendapati ada salah seorang muslim yang melakukan perbuatan zina, beliau bertanya padanya hingga empat kali karena berhati-hati apakah akalnya itu sehat atau tidak. Bahkan ketika hukuman sudah akan dilaksanakan dan pelakunya kabur, nabi membiarkannya seraya berkata, “biarkan ia pergi, mungkin saja ia akan bertaubat”. Dan benar apa yang dikatakan nabi Muhammad SAW, orang itu kemudian bertaubat dan Allah menerima taubatnya.

Dari peristiwa ini para ulama kemudian meneliti dan mengeluarkan fatwa tentang bolehnya menarik kembali pengakuan atas kejahatan yang sudah dilakukan, selama itu dalam batas hak-hak Allah, dan bukan dalam ranah hak-hak manusia. Sebagaimana nabi juga tidak mempertanyakan mengenai pihak yang kedua, yaitu si wanita yang diajak berzina. Nabi Muhammad tidak mencarinya untuk dihukum. Diriwayatkan bahwa ada seseorang yang mencuri pada zaman Abu Bakar. Kemudian ia dibawa kepada sahabat Abu Bakar, Umar, dan Abu Huroiroh. Mereka bertanya padanya, “apakah kamu mencuri?”, ia menjawab “tidak” (HR Abdurrozak, Ibnu Abi Syaibah). Dan pencuri itu tidak menerima hukumannya.

Huduud apabila dilaksanakan, pelaksanaannya harus didasarkan pada pengagungan dosa sebagai akibat dari perbuatan itu. sesungguhnya maksiat yang dilakukannya adalah perbuatan dosa besar yang pantas mendapatkan hukuman yang besar pula. Dengan ditetapkannya hukuman ini diharapkan manusia menjadi takut untuk melakukan maksiat. Allah berfirman, dzalika yukhowwifullohu bihi ‘ibaadah. Yaa ‘ibaadii fattaquun  (az-Zumar: 16), artinya: “dengan hukuman itu Allah menakut-nakuti kalian. Wahai hamba-hambaku!, takutlah kalian dan bertakwalah!”.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pelakanaan hukuman boleh ditinggalkan apabila terdapat hal-hal yang subhat, atau adanya syarat-syarat yang tidak terpenuhi. Islam membuka lebar pintu taubat dan memerintahkan kaum muslim agar ia menutupi kesalahan dan dosa yang telah diperbuat oleh saudaranya. Dalil-dalil tentang perintah Allah untuk menutupi aib dan dosa orang lain sangatlah banyak. Diantaranya Rasulullah  SAW bersabda, innallaha sittir, yuhibbus sitr (Allah adalah penutup aib, dan Ia menyukai tutup). Semoga penjelasan singkat ini semakin membuka cakrawala berfikir kita. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam. (al-bayan Prof. Dr. Ali jum’ah)

BAGAIMANA ISLAM MENGAJARKAN PEMAHAMAN MENGENAI TERORISME?

Sesungguhnya teror tidak mungkin lahir dari rahim agama. Akan tetapi teror pasti lahir dari akal-akal yang rusak, hati yang keras, dan jiwa yang sombong. Sesungguhnya hati-hati yang bertuhan tidak mengenal apa itu kerusakan, tidak mengerti apa itu penghancuran, dan tidak mengetahui apa itu sombong. Karena hati mereka penuh dengan kebaikan, kedamaian dan sifat tawadlu’.

Agama Islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi dan kehidupan yang damai dengan segenap manusia. Agama Islam melihat bahwa semua manusia adalah makhluk yang mulia dan terhormat, tanpa memandang apa itu agamanya, warna kulitnya, dan jenisnya. Allah berfirman, wa laqod karromna bani adaama wa khamalnaahum fil barri wal bakhri, wa rozaqnaahum minatthoyyibaati, wa fadzzolnaahum ‘ala katsiirin mimman kholaqna tafdziila (al-Isroo’: 70), artinya: “sesungguhnya Kami telah memuliakan anak Adam. Dan Kami membawa mereka ke darat dan ke laut. Kami memberikan mereka rizki yang baik, dan Kami melebihkan mereka di atas makhluk-makhluk yang lain dengan suatu kelebihan”.

Islam telah meletakkan sebuah undang-undang yang mengatur hubungan antara seorang muslim dengan orang non muslim dalam satu komunitas masyarakat. Allah berfirman, laa yan haakum ‘anilladziina lam yuqootiluukum fiddini wa lam yukhrijuukum min diyaarikum antabarruhum wa tuqsithuu ilaihim. Inallaha yuhibbul muqsithiin (al-Mumtahanah: 8), artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang non muslim selama mereka tidak memusuhimu atau mengusirmu dari rumahmu”. Ayat itu memerintahkan kita agar berbuat baik kepada orang non muslim dan tidak menyakiti mereka. Di sini seolah-olah Allah hendak memerintahkan orang Islam agar ia bekerja sama dengan orang non muslim selama bertujuan untuk kebaikan bersama.

Orang yang memahami agama Islam dengan benar akan mengatakan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan pentingnya kedamaian. Dari asal katanya Islam bearti damai. Bahkan kata as-salaam (selamat / damai), adalah salah satu nama Allah ta’ala yang mulia. Allah SWT berfirman, huwallahu laa ilaa ha illa huwal malikul quddusussalamul mukminul muhaiminul ‘aziizul jabbarul mutakabbbir. Subhaanallahu ‘amma yusyrikuun (al-Khasyr: 23), artinya: “Dialah Allah yang tiada tuhan melainkan Dia. Dialah Allah yang merajai, yang maha suci, yang maha menyelamatkan, yang maha mengamankan, yang maha menguasai, yang maha perkasa, yang maha memaksa, dan yang maha agung. Maha suci Allah dari apa yang mereka sekutukan”. Allah juga menjadikan kata ‘salaam’ sebagai ucapan saling menghormati ketika mereka saling bertemu.

 Salam adalah kalimat pertama yang mereka tulis di berbagai tempat. Dan surga Allah dinamakan daarussalaam (rumah yang penuh dengan kedamaian). Allah SWT berfirman, lahum daarussalaami ‘inda robbihim. Wahuwa waliyuhum bimaa kaanu ya’maluun (al-An’am: 127), artinya: “bagi orang-orang Islam itu surga sebagai hadiah dari Allah. Dan Allah akan menolong mereka di hari kiamat, karena amalan-amalan yang telah mereka kerjakan”.

Kata as-salam adalah syiar agama Islam di seluruh penjuru dunia sejak munculnya sampai sekarang. Kata itu adalah syiar ketika seseorang bertemu dengan orang lain. Begitu pula ketika akan berpisah mereka akan menyiarkan kedamaian dengan mengucapkan assalaamualaikum (semoga kedamaian atas kamu).

Kedamaian ini tidak hanya sebatas orang-orang Islam saja. Akan tetapi setiap muslim meyakini bahwa setiap orang dengan agama dan keyakinan apapun berhak untuk hidup aman dan damai ketika ia tinggal di negara Islam. Menjaga dan melindungi kaum non muslim yang berada di negara yang mayoritas penduduknya Islam hukumnya wajib. Bahkan Islam sangat menekankan wajibnya orang muslim untuk menjaga mereka. Agama mengancam dan menghukum siapa saja yang menyakiti dan berbuat dzolim kepada orang non muslim yang baik, karena Allah tidak menyukai orang yang berbuat dzolim. Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada mereka. Akan tetapi sebaliknya, Allah akan mempercepat siksaan mereka di dunia. Atau Ia akan menangguhkan siksaan dunia, tapi Ia akan melipat gandakan siksaan-Nya di akherat kelak. Na’udlubillahi min dzaalik.

Banyak sekali dalil-dalil yang menjelaskan tentang keharaman berbuat dzolim. Diantaranya hadits yang mengancam orang yang berbuat dzolim kepada kafir dzimmi (non muslim yang baik yang tingal di negara Islam). Nabi Muhammad SAW bersabda, man dzolama mu’ahadan awin taqosohu haqqon, aw kallafahu fauqo thooqotihii, aw akhodza min hu syaian bighoiri toyyibin nafsin minhu, fa ana hajiijuhu yaumal qiyaamah (HR Abu Dawud, al-Baihaqi), artinya: “barang siapa yang berbuat dzolim kepada kafir dzimmi, merendahkan haknya, atau membebaninya dengan beban yang diluar kemampuannya, atau mengambil sesuatu dari mereka dengan tanpa izin, maka Aku akan menjadi penentangnya di hari kiamat.”

Islam sangat menyerukan kedamaian. Sebab dengan kedamaian kehidupan menjadi tenang dan tentram. Masyarakat yang menyukai kedamaian akan cepat menjadi masyarakat yang maju. Masyarakat yang maju akan membuat bangsa dan negara menjadi maju. Sikap toleransi kepada orang-orang yang memiliki agama yang berbeda akan menciptakan persatuan dan kesatuan sebagai sesama bangsa dan negara. Sehingga negara akan menjadi negara yang kuat, aman dan damai.

Bukanlah sikap yang terpuji apabila Islam dianggap sebagai teroris hanya karena ada sekelompok orang yang berbuat kerusakan yang mengaku-aku sebagai pemeluk agama Islam. Pada dasarnya semua agama menyeru kepada kebaikan. Tetapi pemeluk agama yang memiliki akal yang rusak dan jiwa yang busuk akan membuat agama yang putih memiliki warna yang lain. Sekarang kita lihat agama nasrani misalnya. Agama nasrani menyeru kepada cinta kasih. Akan tetapi jika kita melihat sejarah, pernah ada sekelompok orang Kristen yang melakukan perbuatan dzolim kepada pemeluk agama lain. Gereja di negara Spanyol pernah melakukan tindakan penyiksaan kepada orang-orang muslim dan orang-orang yahudi. Mereka juga mengusir bangsa yahudi yang disebabkan penyebaran filsafat Ibnu Rusydi dan pemikirannya diantara mereka. Gereja memutuskan untuk menghukum setiap orang yahudi yang tidak menerima ketetapan gereja. Orang-orang yahudi dibolehkan untuk pergi meningalkan tempat tinggal dan kampung halamannya dengan syarat mereka tiak boleh membawa perbekalan. Di sepanjang perjalanan mereka ditimpa kelaparan, Sehingga banyak diantara mereka yang mati kelaparan.

Kita tidak boleh meyakini bahwa perbuatan orang-orang nasrani yang menganiaya orang-orang yang berbeda agama itu sebagai ajaran agama nasrani. Kita memiliki akal sehat dan mampu membedakan antara ajaran agama nasrani dengan praktek-praktek kejahatan yang dilakukan oleh sebagian orang nasrani. Begitu pula dengan apa yang terjadi di Afganistan. Banyak desa yang dihancurkan, banyak orang-orang tak berdosa yang dibunuh hanya karena kejahatan satu orang, dengan tuduhan ia memiliki senjata pemusnah masal. Dan tuduhan itu sebenarnya adalah tuduhan bohong yang dibuat-buat agar Amerika bisa mengambil apa yang menjadi keinginannya.

Orang-orang yahudi di Israel yang melakukan kejahatan terhadap orang-orang Islam palestina, tidak mungkin kita menganggapnya sebagai ajaran agama yahudi. Sesungguhnya agama itu datang untuk menyebarkan kedamaian dan kasih sayang diantara sesama manusia. Kejahatan dan terorisme yang terjadi sesungguhnya tidak timbul dari ajaran agama Islam. Tapi ia timbul sebagai akibat dari akal yang rusak dan hati yang takabur. Para pelaku teror itu sudah mempraktekkan apa yang telah di firmankan Allah SWT di dalam al-Qur’an, wa minannasi man yu’jibuka qouluhu fil khayaatid dunya wa yusyhidulloha’ala ma fi qolbihi, wa huwa aladdul khishhom. Wa idza tawalla sa’a fil ardli liyufsida fiiha, wa yuhlikal khartsa wan nasl. Wallahu laa yuhibbul fasaad. Wa idza qii la lahuttaqillaha, akhodzathul ‘izzatu bil itsm, fahasbuhuu jahannam. Wa labiksal mihaad (al-Baqoroh: 204-206), artinya: “dan diantara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau wahai Muhammad. Dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling dari engkau dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanaman-tanaman dan ternak. Dan Allah tidak menyukai kerusakan. Dan apabila dikatakan kepadanya “bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka pantaslah baginya neraka jahanam. Dan sungguh jahanam itu tempat tinggal yang buruk”.

Mari kita memohon kepada Allah ta’ala agar memberikan hidayah kepada kita, anak-anak kita, negara kita,dan seluruh umat Islam. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam. (al-bayan, Dr. Ali Jum’ah)