IKHLAS ADALAH RUH AMAL

AMALAN DAPAT DIIBARATKAN SEPERI BADAN DAN RUHNYA ADALAH IKHLAS

amalan kebaikan dapat diibaratkan seperti badan dan ruh yang menghidupkannya adalah ikhlas. Barang siapa yang beramal tanpa rasa ikhlas maka ia seperti menghadiahkan budak perempuan kepada seorang raja yang bertujuan untuk mendapatkan upah dan balasan. Ia tidak akan mendapatkannya, justru ia malah mendapatakan hukuman. Ikhlas adalah keselamatan amal ibadah dari sifat riya’, -baik riya’ yang besar maupun riya’ yang kecil- dan segala tindakan yang berupaya untuk mendapatkan bagian nafsu. Orang yang ihklas tidak melakukan suatu amalan kecuali hanya mengharapkan ridlo Allah. Ia tidak ingin mencari pahala, atau takut dari hukuman.

Keikhlasan orang-orang yang mencintai Allah adalah beramal karena mengagungkan dan membesarkan Allah ta’ala. Karena Allahlah yang berhak untuk diagungkan bukan yang lain.

adapun ikhlasnya muqorrobiin (orang-orang yang dekat dengan Allah adalah pandangan mata hati mereka kepada kemahaesaan Allah yang menggerakkan dan mendiamkan mereka, bersama dengan sikap mereka yang membebaskan dirinya dari ketergantungan kepada daya dan kekuatan diri. Mereka tidak melakukan suatu amalan kecuali dengan Allah ta’ala, sehingga mereka sama sekali tidak melihat bahwa amalan itu berasal dari dirinya. (Hikmah ke 10).

WARIDATUL AKHWAL

BERBEDANYA  AMALAN SESEORANG KARENA BERBEDANYA WAARIDATUL AKHWAAL YANG MASUK KE DALAM HATI MASING-MASING ORANG

Sesungguhnya perbedaan jenis amlan dzohir itu karena perbedaan waridaat yang datang dan bersemayam di dalam hati. Waridat adalah sesuatu yang datang ke dalam hati, baik itu ilmu kema’rifatan, atau asroor (rahasia). Dan amalan dzohir itu akan mengikuti akhwal (kondisi) hati. Sebagaimana dikatakan di dalam hadits, “sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pulalah seluruh badan. Namun apabila rusak, maka rusaklah seluruh tubuh, dan segumpal darah itu adalah hati. Apabila datang di dalam hati suatu ilmu atau pengetahuan tentang keutamaan bagun malam maka ia akan giat untuk melakukan bangun malam. Dan pasti ia akan mendahulukan amalan itu atas amalan yang lain. Maka anggota badan akan bersemangat untuk menegakkan bangun malam, begitu pula dengan sodaqoh, puasa, dan amalan-amalan yang lain. (hikmah ke 9)

TERBUKANYA PINTU MA’RIFAT

APABILA ENGKAU DIBUKA OLEH ALLAH DENGAN SUATU PINTU MA’RIFAT MAKA JANGAN BERKECIL HATI KARENA SEDIKITNYA AMAL IBADAH. SESUNGGUHNYA ALLAH INGIN MEMBUKA HATIMU, KARENA IA HENDAK INGIN MEMPERLIHATKAN KEBESARANNYA KEPADAMU. KETAHUILAH BAHWA SESUNGGUHNYA MA’RIFAT ITU DATANGNYA DARI ALLAH, SEDANGKAN AMAL IBADAH ITU DATANG DARIMU. MAKA LEBIH BAIK MANA ANTARA SESUATU YANG DATANG DARI ALLAH DENGAN YANG DATANG DARIMU (HIKMAH 8)

Apabila Allah membukakan satu pintu dari beberapa pintu kema’rifatan untukmu. Dan pintu itu dapat berupa sakit, bencana dan kemiskinan. Dan dengan pintu itu perasaanmu menjadi peka dengan kemahadahsyatan Allah -karena sesungguhnya itu semua adalah sebab untuk mendapatan ma’rifat (mengetahui) Allah ta’ala- mengenai sifat-sifat-Nya seperti maha lembut, maha memaksa, dan lain-lain.

Sesungguhnya pintu-pintu ma’rifat itu benar-benar membangunkanmu dari tidur lupa kepada Allah ta’ala.Dan ketika itu janganlah engkau berputus asa karena sedikitnya amal ibadahmu. Sesungguhnya Allah berfirman di dalam hadits qudsi, “jika Aku menguji hamba-Ku yang mukmin, kemudian ia bersabar dan tidak mengaduh-aduh maka akan Aku ganti daging dan darahnya dengan yang lebih baik dari sebelumnya, dan ia akan terbebas dari dosa-dosanya seperti ia baru dilahirkan.

Diriwayatkan bahwa Allah berkata kepada malaikat pencatat amal, “ketika seorang mukmin sedang sakit maka tulislah semua amal solehnya. Maka benar apa yang dikatakan bahwa Allah tidak membuka satu pintu kema’rifatan kecuali ia ingin memperkenalan kepadamu kebesaran-Nya. Dan tidak diragukan lagi bahwa ma’rifat ini lebih utama dari pada banyaknya amal ibadah yang menuntut adanya ikhlas. Dan manusia sangat sulit untuk mendapatkan ikhlas. (AL-HIKAM)

JANGAN RAGU DENGAN ILHAM ALLAH

JANGANLAH ENGKAU MERASA RAGU DENGAN APA YANG TELAH ALLAH ILHAMKAN KEPADAMU MENGENAI TERJADINYA SUATU HAL. KARENA HAL ITU AKAN MENUTUPI MATA HATIMU DAN MEMBUTAKAN CAHAYA SIR MU (hikmah 7)

hikmah ini lebih umum dari sebelumnya. Karena yang dijanjikan pada hikmah sebelumnya adalah khusus mengenai do’a. Sementara dalam hikmah ini juga mencakup apa yang dijanjikan Allah berupa sesuatu yang dilihamkan kepadamu tentang yang akan terjadi  pada waktu tertentu. Seperti engkau akan di futuh (buka) oleh Allah pada tahun ini, atau hal-hal lain sebagaimana terjadi pada sebagian wali-wali Allah. Namun ternyata yang diilhamkan oleh Allah itu pada kenyataannya tidak terjadi.

Sang pengarang kitab ingin mengatakan bahwa apabila engkau telah diberi ilham oleh Allah mengenai suatu hal yag akan terjadi pada waku tertentu, tetapi kemudian waktunya terlambat maka janganlah engkau ragu dengan ilham Allah itu, lebih-lebih jika waktunya belum ditentukan. Dan hendaklah keraguan itu tidak sampai mengaburkan mata hati atau bahkan membutakannya. Karena boleh jadi terjadinya sesuatu yang dijanjikan itu bergantung kepada sebab dan syarat tertentu yang belum terjadi. Sesungguhnya orang-orang arif itu adalah orang yang memiliki adab dan sopan santun kepada tuhannya. Jiwanya senantiasa tidak merasa goncang akan keterlambatan janji Allah ta’ala  (AL-HIKAM  Ibnu Athoillah as-Sakandari).

 

JANGAN PUTUS ASA DARI TERLAMBATNYA PEMBERIAN ALLAH

Keterlambatan tekabulnya permintaan kita di dalam do’a janganlah membuatmu berputus asa. karena Allahlah yang menjamin terkabulnya do’a. Dia akan memberikan sesuatu yang dipilihkan-Nya, bukan yang engkau pilih sendiri. Dan di waktu yang Allah inginkan, bukan di waktu yang engkau inginkan.

keterlambatan terkabulnya permintaan / do’a janganlah membuat kita berputus asa. Allahlah yang menjamin terkabulnya do’a. Firman Allah, ud’uuni astajib lakum  (Ghofir: 60), artinya: “berdo’alah kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan”, dengan sesuatu yang telah dipilihkan Allah, bukan apa yang engkau pilih sendiri, karena Allah lebih mengetahui apa yang lebih baik untukmu. Mungki engkau meminta sesuatu dari-Nya, tetapi Ia menolaknya darimu. Namun penolakan itu sebenarnya adalah pemberian. Firman Allah, wa ‘asaa antakrohuu syaian wa huwa khoirun lakum. Wa ‘asa an tukhibbu syaian wa huwa syarrul lakum. Wallahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun (al-Baqoroh: 16), artinya: ”boleh jadi engkau membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi engkau mencintai sesuatu tetapi itu buruk bagimu. Sesungguhnya Allah lebih tahu, dan engkau tidak tahu”. Jadi secara dzohir Allah menolakmu, namun pada hakekatnya penolakan itu adalah pemberian.

Begitu juga Allah akan mengabulkan do’a kita pada waktu yang Dia inginkan bukan di waktu yang engkau inginkan. Jadilah engkau orang yang bersabar, karena sesunggunya sabar dan bersikap tidak terburu-buru itu lebih utama bagi seorang hamba. Coba perhatikan sesungguhnya nabi Musa berdo’a untuk kehinaan fir’aun dan kaumnya. Dan nabi Harun beriman dan percaya kepada do’anya robbanathmis ‘alaa amwaalihim,( Yunus: 88), artinya, “ya Allah binasakanlah harta-harta fir’aun dan kaumnya”. Dan setelah empat puluh tahun do’anya baru dikabulkan. Firman Allah,  qod ujiibat da’watukumaa fas taqiima wa laa tattabi’aani sabiiilaldziina la ya’lamuun  (Yunus: 89), artinya: “sesungguhnya telah Aku kabulkan do’a kalian (Musa dan Harun), berlakulah istiqomah dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.

Sesungguhnya hamba yang soleh apabila berdo’a, Jibril akan berkata, “ya Allah aku mohon agar hambamu ini Engkau penuhi kebutuhannya. Kemudian Allah berkata, “biarkan hambaku terus berdo’a! sesungguhnya Aku senang mendengarkan suaranya. Maka pahamilah wahai murid dari apa yang diminta oleh Allah di dalam do’amu. Serahkanlah segala keinginanmu kepada Allah ta’ala. Mungkin Allah telah mengabulkan do’amu dan menyimpankan untukmu ganti yang lebih baik. Syeh Ibnu Athoillah as-Sakandari

BERJUANG KERAS DALAM BERIBADAH

ijtihaaduka fima dzomina laka wa taqshiiruka fiima tholaba minka dalilun ‘ala ‘inthimaasil bashiroti minka (usahamu untuk melakukan yang telah ditanggung oleh Allah dan keteledoranmu dari sesuatu yang diperintahkan atasmu adalah bukti akan kebutaan mata hatimu)

artinya, bahwa usahamu wahai murid untuk mencari apa yang sudah ditanggung dan dijamin oleh Allah, misalkan rizki seperti firman Allah, wa maa min daabatin fil ardli illa ‘alallahi rizquha  (Hud: 6), artinya, “dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa), di bumi melainkan semuanya telah dijamin rezekinya oleh Allah. Dan keteledoranmu dari hal yang diperintahkan kepadamu dari ibadah seperti firman Allah, yaa ayyuhannaasu’budu robbakum (al-Baqarah: 21), artinya: “wahai manusia sembahlah tuhanmu”. adalah dalil dan bukti akan kebutaan bashiroh. Bashiroh adalah mata yang ada di dalam hati. Dan dengan mata hati akan tertangkap segala hal-hal yang bersifat maknawi / ruh. Sebagaimana mata kepala yang dapat menangkap perkara-perkara yang bersifat fisik.

Pelajaran yang dapat diambil dari pengarang kitab adalah kebutaan mata hati disebabkan oleh berkumpulnya dua hal yaitu, usaha keras dalam mencari rizki dan kemalasan beribadah. Namun apabila ia mencari rizki dengan tetap memperhatikan ibadahnya, maka ia masuk dalam hadits nabi, “ barang siapa yang kerja keras dan tidur malam karena mencari rizki yang halal, maka ia tertidur dan dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah ta’ala.

MENGISTIRAHATKAN DIRI

Arih nafsaka minat tadbiiir, fa ma qoma bihi ghoiruka ‘anka, laa taqum bihi linafsika (istirahatkan dirimu dari keinginan mengatur dan mengusahakan sesuatu, karena apa yang sudah dilakukan Allah itu tidak akan mampu engkau lakukan)

artinya, istirahatkan dirimu dari lelahnya sikap mengatur dan mengusahakan yang berlawanan dengan ‘ubudiyyah (sifat hamba) dengan mengatakan bahwa jika aku tidak melakukan hal ini maka tidak akan menjadi seperti ini. Sesungguhnya Allah ta’ala adalah pengatur segala sesuatu berdasarkan atas ketentuan dan takdir dari Allah ta’ala. Segala apa yang sudah diatur oleh Allah tidak akan bisa kita atur. Sesungguhnya kita tidak akan mampu untuk mengatur segala apa yang telah diatur oleh Allah ta’ala. Adapun sikap mengatur dan mengusahakan yang dibarengi dengan kepasrahan kepada Dzat yang maha mengetahui maka tidak apa-apa. Nabi SAW bersabda, at-tadbiiru nishful ma’iisyah. (al-Hikam Ibnu Athoillah as-Sakandari)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEINGINAN DAN USAHA YANG KUAT TIDAK AKAN BISA MEROBEK KETENTUAN TAKDIR

Hikmah ini berkaitan dengan hikmah sebelumnya. Bahwa  apa yang ditetapkan oleh Allah di alam azali tidak bisa dirubah dengan usaha dan keinginan yang kuat. Oleh karena itu engkau harus yakin wahai murid bahwa keinginan dan usaha adalah bagian dari sebab, sebagaimana sebab-sebab yang lainnya  yang tidak memiliki pengaruh dan efek sama sekali. Dan apa yang dihasilkan dari keinginan dan usaha keras adalah karena semata-mata qodlo’ dan ketetapan dari Allah ta’ala. Oleh karena itu keinginanmu tidak akan memberi manfaat apa-apa jika dihadapkan dengan keinginan Allah ta’ala. ( al-Hikam Ibnu Athoillah as-Sakandari )

KEWAJIBAN ANAK KEPADA KEDUA ORANG TUA

Wahai anak yang tercinta, engkau telah mengetahui bagaimana cinta dan sayangnya kedua orang tua kepadamu, dan engkau juga sudah mengetahui apa yang telah ia lakukan dalam mendidikmu. Maka wajib atasmu untuk membalas kebaikan mereka dengan kebaikan, berupaya dengan sekuat tenaga untuk berbuat baik kepada keduanya. Untuk itu engkau harus melakukan nasehat-nasehat ini,

  1. Engkau harus menyayangi mereka dengan sepenuh hati, menghormati mereka dengan penghormatan yang tinggi. Berusahalah untuk selalu membahagiakan kedua orang tuamu. Berusahalah untuk menghindari segala sesuatu yang membuat mereka marah dan bersedih. Bersegeralah untuk melaksanakan perintah-perintahnya, memenuhi segala kebutuhannya, dan berusaha untuk bersalaman degan mereka setiap pagi dan sore. Berusahalah untuk berada di hadapan orang tua dengan wajah yang menggembirakan. Jangan lupa untuk mendo’akannya dengan panjang umur dalam kebaikan dan kesehatan, tercapai segala maksud dan tujuannya, dan agar Allah membelas mereka dengan sebaik-baiknya balasan.
  2. Engkau harus mengetahui bahwa masih hidupnya orang tua merupakan nikmat yang besar dari Allah untukmu, juga menjadi berkah dan rohmat atasmu. berusahalah untuk menikmati ketika sedang memandang wajahnya. Karena dalam hal itu ada pahala yang besar. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits, ma min rojulin yandzuru ila wajhi wa lidaihi nadzro rohmatin, illa kataballahu lahu biha hajjatan mabruurotan ( dimana ada seorang yang memandang wajah orang tuanya dengan pandangan kasih sayang maka Allah akan menghadiahkan baginya pahala seperi pahala haji yang mabrur). Berusahalah untuk melibatkan mereka dalam urusanmu dan berusahalah untuk memberikan kebahagiaaan kepada mereka. Betapa agungnya nikmat memiliki orang tua. Maka seorang anak tidak akan merasakan nikmatnya memiliki orang tua kecuali jika mereka telah meninggal dunia. Maka pada saat itu ia akan merasakan penyesalan yang mendalam belum maksimal dalam berbakti kepada keduanya. Rasa sedih yang mendalam ketika berpisah dengannya.
  3. Hendaknya engkau menggunakan adab ketika berada di hadapannya. Engkau tidak boleh membelakanginya. Engkau juga tidak boleh memanggilnya dengan menyebutkan langsung namanya. Dan janganlah engkau tertawa ketika berada di hadapannya yang bukan tempatnya tertawa, atau dengan mengeraskan suaramu, atau memandang wajahnya dengan mata yang tajam. Dan jangalah engkau berbohoong kepada oarng tuamu, berkata-kata kotor dan berbicara dengan keduanya dengan perkataan yang buruk. Firman Allah, wa qodlo robbuka alla ta’bududu illa iyyaahu wabil waalidaini ihsaana, imam yablughonna ‘indakal kibaro ahaduhuma aw kilahuma, fa la taqul lahuma uffin wa la tanharhuma wa qul  lahuma qoulan kariima. wakhfidzlahuma janaakhadzzulli minarrohmati wa qul robbirkhamhuma kama robbayaani soghiiro ( Tuhanmu memerintahkanmu untuk tidak menyembah kecuali kepada Allah dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika mereka sudah beranjak tua janganlah engkau mengatakan ‘ah’, dan janganlah engkau membentaknya, tetapi berkatalah dengan perkataan yang baik dan mulia. Merunduklah dan bersikaplah tawadhu’ ketika berada di hadapan mereka, dan berdo’alah kepada Allah dengan do’a ‘sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil’. (akhlaqul baniin Juz 2)

CINTA KEDUA ORANG TUA

Sesungguhnya orang tuamu sangat menyayangimu. Mereka berdua adalah sebab adanya engkau di dunia. Mereka sangat lelah dalam mendidikmu, namun mereka senang melakukannya. Ibumu telah mengandungmu selama sembilan bulan. Kemudian ia menyusuimu dan bersabar atas lelahnya mengandung dan capeknya menyusui. Ia selalu memperhatikan kebersihan badan dan pakaianmu. Ia juga membuatkan untukmu pakaian yang lembut dan merapikan tempat tidurmu. Ia senantiasa menjagamu dari gigitan nyamuk agar engkau bisa tidur dengan nyenyak. Ia selalu menjagamu setiap waktu dari segala hal yang membahayakanmu jika engaku sedang berjalan, duduk, dan bermain. Ialah yang telah menyiapkan makananmu dan mengajarimu berjalan dan berbicara. Dan betapa bahagianya orang tua ketika engkau bisa mulai berbicara dan berjalan.

Ayahmu keluar dari rumah setiap hari. Ia senantiasa bersabar dari rasa lelah, menahan rasa panas dan dingin, agar ia mendapatkan rizki yang halal guna menafkahimu, ibumu dan seluruh keluargamu. Ia membeli pakaian, makanan, dan segala halyang engkau butuhkan seperti peralatan sekolah dan lain-lain. Apabila engkau meminta kepada orang tua sesuatu yang ada manfaatnya maka ia tidak mungkin menolak keinginanmu. Bahkan ia akan segera mengabulkan permintaanmu dengan perasaan senang.

Ayahmu senantiasa menginginkan agar engkau hidup sehat, dijauhkan dari penyakit dan bahaya. Oleh karena itu ia akan mencegah segala hal yang membahayakan bagimu. Ia juga senang engkau membiasakan diri dengan akhlak yang mulia dan adab yang sempurna. Oleh karena itu ia akan mencegahmu dari majlis-majlis yang tidak baik. Ia sangat menginginkan agar engkau di masa depan menjadi orang yang dewasa dan sempurna ilmunya, baik akhlaknya, berpegang teguh kepada agamanya, dan dapat memberikan kemanfaatan bagi dirinya dan kaumnya. Oleh karena itu ia memasukkanmu ke madrasah dan rela mengorbankan biaya yang besar untuk pendidikanmu.

Orang tuamu amat menyayangimu dengan kasih sayang yang sempurna. jika engkau sakit, maka orang tuamu sangat bersedih. Mereka akan mengorbankan segenap kemampuannya demi kesembuhanmu. Ia akan selalu berdoa kepada Allah sepanjang malam dan siang. Ibumu senantiasa begadang demi menjagamu. Terkadang ia menangis dengan linangan air mata karena merasa kasihan padamu. Ayahmu akan memanggilkan dokter dan membelikan obat untukmu. Ia tidak peduli meski mengeluarkan uang yang banyak.demi kesehatanmu yang mahal itu. (akhlaqul baniin juz 2, Umar bin Ahmad Barja’).